Selasa, 16 Februari 2016

MEMBELI AYAH/ KISAH HIKMAH

Membeli Ayah
Ini copy paste dari googling  (sudah lama, tidak tercopy link nya), sekedar renungan bagi para ayah/calon ayah.
***
Ada seorang ayah yang setiap hari bekerja keras dan pulang larut malam. Bahkan seringkali di hari sabtu dan minggu pun ia bekerja. Suatu hari seperti biasa ia lembur lagi, dan pulang dengan tubuh lelah dan pikiran penat. Sampai di rumah ia menjumpai anaknya yang masih kecil menantinya di ruang tamu.
“Malam papa, bolehkah aku bertanya?”, tanya si anak.
“Mau tanya apa tho?”, dengan nada sedikit terganggu ayahnya menjawab, (maklumlah sudah capek).
“Papa, berapa gaji papa per jam?”, tanya si anak dengan hati-hati (takut dimarahi)
“Aduh ngapain sih kamu tanya begituan?”, hardik sang ayah.
“Maaf papa, saya cuma ingin tau…”
(berpikir sejenak) “Ya sudahlah, kira2 gaji papa satu jam nya 50 ribu”
“Oh”, jawab si anak, sejenak kepalanya tertunduk berpikir. Lalu dengan sangat perlahan si anak berkata, “Kalau begitu… bolehkah saya pinjam… 10 ribu saja papa…?”
Sang ayah pun bangkit amarahnya, “Jadi kamu nanya cuman mau pinjam uang? Sudah berani kamu ya nanya gaji papa cuman supaya kamu bisa pinjam uang untuk beli mainan tak berguna atau jajan! Cepat kamu masuk kamar dan tidur!”
Anaknya pun tanpa berkata apa2 lagi, menundukkan kepala lalu masuk ke kamarnya dan sang ayah pun pergi mandi. Setelah mandi, sambil berbaring di tempat tidurnya sang ayah berpikir, “Mungkin aku terlalu galak pada anak ku, mungkin dia memang benar2 ingin membeli sesuatu, pelitnya aku ini, 10 ribu saja aku marah pada anak ku”. Kemudian sang ayah pun bangun, mengambil 10 ribu dari dompetnya dan menuju kamar anaknya.
“Nak..”, panggilnya dengan pelan, mungkin anaknya sudah tertidur, “…kamu belum tidur?”
“Belum papa, maaf, dari tadi saya belum bisa tidur”, sahut anaknya.
“Mungkin ayah tadi terlalu kasar kepadamu, maaf tadi papa sangat lelah dan menumpahkan marah kepadamu, nih, 10 ribu yg tadi kamu minta”.
Dengan wajah ceria anaknya menerima uang itu. Lalu anaknya mengambil sebuah kotak pensil tua yang ada dibawah bantalnya, mengambil segenggam uang dari situ, lalu menghitung uangnya.
Sang ayah pun marah lagi, “Kamu ni, sebenernya mau beli apa sih? Udah punya uang gitu, masih mau pinjam lagi!”
Setelah selesai menghitung embaran-lembaran lusuh uang di tangannya, sang anak memandang ayahnya dan menjawab, “terima kasih papa, sekarang uangku sudah cukup”
“Sebenernya kamu ini mau ngapain sih! Jawab pertanyaanku”, hardik ayahnya lagi
Dengan ceria dia menjawab, “Papa, ini sekarang aku punya uang 50 ribu, bolehkah aku membeli waktumu satu jam? Pulanglah lebih awal besok, aku kangen makan malam sama papa…”


Sabtu, 13 Februari 2016

kultum.Mensyukuri nikmat Allah swt


Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakatuh
Alhamdulillah wassyukurillah wala haula wala quwwata illa billah, amma ba’du.
Yang Saya hormati para dewan juri, serta rekan-rekanku sekalian.
Mudah-mudahan kita semua ditambah-tambahkan kemuliannya oleh Allah jalla jalaluh
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah swt. sampai saat ini kita masih diberi kesehatan dan kesempatan serta ketetapan iman dan islam, semoga nikmat-nikmat ini mampu kita syukuri dan mudah-mudahan syukur kita diterima oleh Allah swt. amin ya robbal ‘alamin.
Shalawat beserta salam selalu tercurah kepada junjungan kita yaitu nabi besar Muhammad saw. dan mudah-mudahan kita sebagai umatnya akan mendapatkan syafa’atnya diyaumil qiyamah nanti, amin ya robbal ‘alamin.
SEHAT adalah salah satu dari banyak kenikmatan yang diberikan oleh Allah swt. kepada manusia. Oleh karena itu wajar dan wajib untuk kita mensyukurinya. Tetapi selama ini masih banyak yang menganggap bahwa nikmat Allah hanya dinilai dengan kesenangan. Pada hal nabi bersabda “ Ni’mataani maghbunun fihima katsirum minannas, assihhatu wal faroghu” artinya “ada dua kenikmatan yang paling banyak dilupakan oleh manusia, yaitu kesehatan dan kesempatan”
Hadirin yang berbahagia
Ada nasehat dari leluhur Saya “ ayo kabeh dulur-dulur dadi wong aja takabur, maring Allah kudu syukur inget yen bakal ning kubur” artinya mari semua saudara-saudaraku, jadi orang jangan sombong, kepada Allah harus bersyukur, ingat kita semua akan masuk kedalam kubur.
Allah swt. berfirman “ Laing syakartum laazidannakum” artinya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambahkan nikmat kepadamu. Makanya apa yang ada dalam diri kita adalah nikmat dari Allah swt. jangan saling hina, ngeledek dan lain sebagainya. Contoh yang pesek jangan hina yang pendek. Yang pendek jangan hina yang bengek. Yang bengek jangan hina yang kesrek. Yang kesrek jangan hina yang tergolek. Yang tergolek jangan hina yang geblek.
Sebaiknya semua harus disyukuri dengan mengatakan. Alhamdulillah hidung saya doang yang pesek, orang lain ada yang badannya pendek, kemana-mana dilihatin orang terus. Kata yang pendek Alhamdulillah badan saya pendek, orang lain ada yang bengek, kalau tidur terganggu dengan bengeknya seperti memompa ban sepeda. Kata yang bengek, Alhamdulillah saya cuma bengek, tetangga saya ada yang kesrek, kemana-mana garukin badannya terus. Kata yang kesrek, Alhamdulillah saya cuma kesrek, tetangga saya ada yang tergolek kagak melek-melek. Kata yang tergolek, Alhamdulillah saya cuma tergolek, teman saya ada yang geblek, kemana-mana jalan tidak memakai baju. Ting bating nauzubillahi min dzalik.
Hadirin rahimakumullah
Allah SWT berfirman dalam surah Luqman ayat 31. Aniskurli wali walidayya         Yang artinya “ bersyukurlah kepadaku dan bersyukurlah kepada kedua orang tuamu”
Jadi bersyukur itu bukan hanya shalat,sedekah tapi mengabdi dan patuh terhadap orang tua juga ibadah.teman-teman punya orang tua nggak ?         Ada berapa orang tua kita ? ya, dirumah dan disekolah.        sayang gak sama orang tua ?
Kalo sayang sama orang tua, marilah kita hormati mereka. Jangan sampe kita durhaka terhadap mereka. Dan marilah kita menyayangi mereka
Hakikatnya, syukur yang kita lakukan adalah untuk diri kita sendiri, firman Allah swt “ wamay yasykur fainnama yasykuru linafsih” artinya siapa orangnya yang bersyukur maka sesungguhnya syukurnya adalah untuk diri kita sendiri. Shalat yang kita lakukan bukan buat Allah, sadaqah yang kita lakukan bukan buat Allah, puasa yang kita lakukan bukan buat Allah, zakat yang kita lakukan bukan buat Allah, semuanya adalah untuk diri kita sendiri. Dengan catatan lakukan semuanya karena Allah swt.
Ada satu kisah hikmah buat kita semua yang ada kaitannya dengan syukur kepada Allah swt.
“ suatu hari ada seorang tukang yang ingin berhenti dari pekerjaannya sebagai tukang bangunan, Dia berkata kepada atasannya” wahai tuan, saya ingin berhenti dari pekerjaan saya. Kemudian atasannya mengizinkannya dan memberikan tugas terakhir kepada sang tukang. Kata atasannya wahai bapak tukang, Aku izinkan kau berhenti dari profesimu sebagai tukang tapi Aku minta engkau menyelesaikan satu proyek yaitu bangunkanlah Aku satu buah rumah sebagai karya terakhirmu. Lalu dengan sedikit berat hati tugas itu dikerjakanya, tapi dengan motivasi yang salah. Dalam hatinya berkata “ besok lusa saya sudah tidak disini  lagi, saya akan mengerjakannya semau saya “ akhirnya dia bekerja secara tidak professional. Pintu asal jadi, jendela asal jadi, masang keramik asal jadi. Setelah dirasa selesai tugasnya, menghadaplah sang tukang kepada atasannya dengan berkata “ wahai tuan, rumah yang anda perintahkan sudah saya kerjakan dan ini kuncinya saya berikan kepada tuan. Lalu sang majikan mengambil kunci yang diberikan oleh tukang dan berbalik memberikan kembali kepada sang tukang lalu sang majikan berkata “ wahai bapak tukang, sesungguhnya rumah yang anda buat kemarin adalah untukmu dan ini kuncinya dan ambillah rumah itu untuk kau tempati” akhirnya dengan penuh penyesalan dan menggerutu dalam dirinya “ kalaulah Aku tahu rumah itu buatku, pasti Aku tidak sembarangan dan asal jadi Aku membuatnya.
Hikmah dari kisah tersebut adalah ibarat kita tukangnya dan Allah swt. atasan kita. Allah swt. sudah memberikan fasilitas berupa nikmat-nikmatnya di dunia ini yang diperuntukkan manusia tergantung manusianya bersyukur atau tidak kepada Allah swt.
Jadi yakinilah, bahwa syukur yang kita lakukan adalah buat diri kita sendiri.mudah-mudahan kita semua menjadi anak yang soleh-solehah yang mampu mensyukuri nikmat dari Allah swt.
Akhirnya, pak Amat jualan tomat, yang beli harus hormat. Kalau mau hidup selamat,maka syukurillah nikmat.
Billahi taufiq wal hidayah, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.


kerelawanan adalah solusi

KERELAWANAN ADALAH SOLUSI
Relawan sebuah istilah yang terkadang dipandang sebelah mata oleh sebagian kalangan. Dalam kesempatan lain dianggap “topeng” bagi orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan jelas. Sering pula diasumsikan sebagai “pengacara” (pengangguran banyak acara). Predikat yang tidak jelas nominal gajinya. Namun di saat lain, relawan sesekali dianggap sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Namanya juga relawan, jadi harus rela dalam setiap situasi dan kondisi. Bahkan lebih dari itu, seorang relawan harus dituntut untuk siap dalam kondisi tidak menentu.
Munculnya problematika hidup dan hadirnya musibah dalam kehidupan manusia menjadi tantangan dan kendala yang harus dihadapi. Ditambah lagi sifat ketergantungan manusia dengan sesama saudaranya menjadi factor utama wujudnya relawan. Uluran bantuan dan kepedulian terhadap sesama adalah simponi kehidupan yang menambah indah arti kehidupan. Tidak mengherankan jika dalam suatu kondisi mereka –para relawan- menjadi mulia dan dipuja. Namun boleh jadi, dalam kesempatan lain bisa dicerca dan dihina, hanya karena ingin menjadi “relawan sebenarnya”.
Dalam Islam, dunia kerelawanan sebenarnya telah lama dipraktekkan. Keberadaan para sahabat di sekitar Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam-  menjadi cerminan relawan sejati. Mereka –para sahabat Nabi- menyadari betul bahwa hidupnya didedikasikan untuk menolong dakwah Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- tanpa memikirkan gaji ataupun insentif yang akan didapatkan secara materi duniawi. Namun sesuatu yang pasti mereka harapkan adalah ridho dan janji Allah ta’ala. Merekalah relawan sejati yang mendapatkan sanjungan dari Ar Rohmân dan  dalam Al Qurân :
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (29(
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya adalah orang-orang yang bersikap tegas terhadap orang-orang kafir dan bersikap lemah lembut di antara mereka. Engkau melihat mereka dalam kondisi ruku’ dan sujud, mereka mencari karunia dan keridhoan dari Allah. Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurot dan sifat-sifat mereka dalam Injil yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, lalu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya, tanaman itu menyenangkan hati para penanam karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih di antara mereka ampunan dan pahala besar”. (QS. Al Fath : 29)
Menjadi seorang relawan dakwah maupun kemanusiaan sebagai ujud solidaritas terhadap sesama bukanlah perkara mudah. Seorang relawan tentulah memahami dan menyadari bahwa “dunia” yang diterjuninya merupakan dunia penuh resiko dan pengorbanan. Sebuah dunia yang menguji makna kesabaran dan ketawakkalan kepada Robb Penguasa alam.
Beratnya tantangan yang dihadapi seorang relawan baik dalam misi dakwah ataupun misi kemanusiaan menuntut kesabaran tinggi. Di antara tantangan yang dihadapi adalah seperti meninggalkan keluarga demi suatu tugas yang tidak terlalu menjanjikan materi duniawi. Setiap hari berhadapan dengan problematika umat yang jarang sekali orang peduli dengannya. Ada kalanya harus berkorban dana dan tenaga demi tercapainya tujuan mulia agar umat terlayani hajat hidupnya dan faham dengan agamanya. Tidak mengherankan jika Allah menyanjung amalan ini melalui firman-Nya :
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (33(
“Siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal sholih dan berkata : sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri”. (QS. Fushilat : 33)
Mengenai penjelasan ayat tersebut, Imam Hasan al Bashri berkata : “Inilah kekasih Allah, dia lah wali Allah, dia lah hamba pilihan Allah. Inilah makhluq yang paling dicintai oleh Allah, dirinya menjawab seruan Allah dan mengajak manusia menuju kepada seruan-Nya, lalu mengerjakan amal sholih dalam ketaatan kepada-Nya dan berkata : sesungguhnya diriku bagian dari orang-orang Islam, maka inilah kholifatulloh”.[1]
Bagi seorang muslim dan muslimah, menjadi relawan Islam sejatinya menjadi tuntutan iman. Karena Allah ta’ala menyeru :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا أَنْصَارَ اللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّينَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ فَآمَنَتْ طَائِفَةٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَكَفَرَتْ طَائِفَةٌ فَأَيَّدْنَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَى عَدُوِّهِمْ فَأَصْبَحُوا ظَاهِرِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikut setianya (hawariyyin): “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pegikut-pengikutnya yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah”, lalu segolongan dari bani israil beriman dan segolongan lain kafir, maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu menjadi pemenang”. (QS. Al Shoff : 14)
Imam Ibnu Jarir al Thobari menukil perkataan Qotadah dalam tafsirnya : “Allah telah memiliki penolong-penolong agama-Nya dari umat ini yang senantiasa berjihad di atas Kitab-Nya dan hak-Nya”. Disebutkan pula bahwa ada 72 orang Anshor (dari Madinah) yang berbai’at kepada Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam- di malam ‘Aqobah. Kemudian sebagian di antara mereka berkata: “Apakah kalian tahu atas perkara apa kalian berbai’at dengan Nabi Muhammad?  Sesungguhnya kalian berbai’at dalam rangka memerangi seluruh bangsa Arab sampai mereka berislam”.[2]
Imam Al Qurthubi menjelaskan dalam tafsirnya : “Dia (Allah) telah meneguhkan perintah jihad, jadilah kalian penolong-penolong nabi kalian agar Allah memenangkan kalian atas orang-orang yang menyelisihi kalian sebagaimana Allah telah memenangkan pengikut-pengikut Isa atas orang-orang yang menyelisihi mereka”.[3]
Dari sini lah pandangan seorang relawan tentang siapa sebenarnya dirinya bermula. Seorang relawan sejatinya tidaklah bekerja melainkan menjadi penolong Nabi. Dirinya tidaklah beraktifitas melainkan menjadi pejuang bagi Allah. Sungguh amalan agung nan mulia. Pekerjaan yang sudah seharusya dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan sekuat tenaga. Karena amalan tersebut akan dipersembahkan untuk Allah Robb semesta alam, itulah ibadah. Tidak ada cara lain bagi seorang hamba agar ibadahnya diterima kecuali hanya dengan ikhlas.
Keikhlasan inilah yang menjadi “energi” hebat bagi seorang relawan Islam. Karena hanya dengan ikhlas, seorang relawan mampu mengorbankan apa yang dimilikinya dari harta dan jiwanya sekalipun. Ikhlas adalah mesin penggerak yang mampu mendorong seorang relawan melakukan suatu hal besar yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain. Lihatlah bagaimana para sahabat Nabi yang berbondong-bondong memenuhi seruan Nabi untuk menghadapi serbuan pasukan kafirin salibis Romawi. Mereka datang untuk ikut serta berperang menemani Nabi tercinta. Uniknya, mereka ikut berperang bukan hanya untuk mendapatkan gaji sebagai seorang tentara. Namun justru mereka mendaftarkan diri dengan membawa harta dan jiwa mereka di hadapan Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam-.
Hingga didapatkan orang-orang yang berlinang air matanya dikarenakan tidak memiliki perbekalan untuk ikut serta menemani Nabi dalam perang suci. Itulah yang terjadi dalam sejarah perjuangan generasi awal Islam di perang Tabuk. Ketulusan hati mereka diabadikan dalam Al Qurân :
“Tiada dosa (lantaran tidak bisa pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang sakit, dan atas orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (91). Dan tiada pula berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu supaya kamu memberi mereka kendaraan lalu kamu berkata: “aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawa mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan (92)”. (QS. At Taubah: 91 – 92)
Ikhlas menjadi obat kegundahan hati relawan Islam. Di saat anak-anak dunia (baca: pecinta dan pencari dunia) sering menuntut materi dan gaji, di saat mereka ogah-ogahan berkarya karena minimnya fasilitas, maka seorang relawan Islam akan tetap terus berjuang meski dengan minimnya fasilitas. Dirinya akan tetap terus berjuang meski tidak ada lagi harapan gaji besar. Dirinya akan tetap terus tegar menjadi tameng hidup Islam meski janji naik pangkat jabatan dunia tidak didapatkan. Kenapa sampai seberani itu ? karena seorang relawan Islam tahu betul dan meyakini bahwa yang mencukupi hidupnya adalah Allah. Keikhlasan dirinya membawa pada satu maqom mulia yaitu hadirnya kebersamaan dengan Allah (ma’iyyatullah). Apalagi yang dirisaukan oleh seorang relawan Islam ?! sementara hidupnya telah ditanggung dan dicukupi oleh Allah dari arah yang tak disangka-sangka. Allah  berfirman :
أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِنْ دُونِهِ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ
“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-Nya. Dan mereka menakutimu dengan (sembahan-sembahan) selain Allah. Dan barang siapa yang disesatkan Allah maka tidak seorangpun pemberi petunjuk baginya”.(QS. Az Zumar : 36)
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا (3(
“… Barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari  arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya) sesungguhnya Allah melaksanakan urusannya yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tipa sesuatu”. (QS. Ath Tholaq: 2 – 3)
Bagi relawan Islam yang siap memperjuangkan hak-hak Allah ta’ala, keridhoan Ar Rohman adalah obsesi tertingginya. Itulah gambaran yang didapatkan dari relawan Islam generasi awal (para sahabt Nabi). Tidak didapatkan keluh kesah dalam menjalankan tugas relawan di sekitar Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam-. Meskipun mereka harus mengeluarkan apa yang mereka miliki dari harta dan jiwanya. Dan kehidupan mereka pun juga tidak terlunta-lunta. Inilah perkara yang mungkin tidak bisa diterima oleh nalar seorang pragmatis opurtunis. Namun inilah kenyataan dan bukti kebenaran janji Ar Rohman untuk relawan Islam. 
7 Alasan Kenapa Jadi Relawan Akan Menjadikan Hidupmu Sendiri Lebih Ringan

1.      Menjadi Relawan Bisa Memperluas Pergaulanmu, Karena Kamu Bakal Punya Kesempatan Untuk Mengenal Orang-Orang Baru.

2.      Dengan Menjadi Relawan, Kamu Bisa Melihat Prespektif Baru Yang Sebelumnya Belum Pernah Kamu Tahu

3.      Kamu Punya Kesempatan Lebih Mengenal Dirimu Sendiri Dan Lingkunganmu

4.      Secara Kesehatan, Kegiatan Menjadi Relawan Baik Untuk Kesehatan Mental . Karena Bisa Mengurangi Stres Dan Membuatmu Lebih Bahagia

5.      Menjadi Relawan Juga Menjadi Nilai Plus Untuk Prospek Kerjamu Nanti

6.      Kamu Ingin Menggali Minat dan Bakatmu Lebih Dalam? Kamu Bisa Berkreasi Sepuasnya Di Kegiatan Ini.

7.      Dengan Menjadi Relawan, Kamu Jadi Tahu Bahwa Uang Bukanlah Segala-Galanya.

Wallahu a’lam bis showab
Ust Abdul Muchith, M. Ag(Blogger:kangmuysolution)

CATATAN KAKI
[1] Muhammad bin Jarir, Abu Ja’far al Thobari, Jâmi’ul Bayân fii ta’wiil Āyil Qurân, (Muassasah al Risalah, cet. I, th. 1420 H – 200  M), juz 21 hal 469
[2] Muhammad bin Jarir, Abu Ja’far al Thobari, Jâmi’ul Bayân fii ta’wiil Āyil Qurân, juz 23 hal 365
[3] Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Syamsuddin al Qurthubi, al Jâmi’ li Ahkâm al Qurân,(Kairo: Dâr al Kutub al Mishriyyah, cet. II, th. 1384 H – 1964 M) juz 18 hal 89

KERELAWANAN ADALAH SOLUSI

KERELAWANAN ADALAH SOLUSI
Relawan sebuah istilah yang terkadang dipandang sebelah mata oleh sebagian kalangan. Dalam kesempatan lain dianggap “topeng” bagi orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan jelas. Sering pula diasumsikan sebagai “pengacara” (pengangguran banyak acara). Predikat yang tidak jelas nominal gajinya. Namun di saat lain, relawan sesekali dianggap sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Namanya juga relawan, jadi harus rela dalam setiap situasi dan kondisi. Bahkan lebih dari itu, seorang relawan harus dituntut untuk siap dalam kondisi tidak menentu.
Munculnya problematika hidup dan hadirnya musibah dalam kehidupan manusia menjadi tantangan dan kendala yang harus dihadapi. Ditambah lagi sifat ketergantungan manusia dengan sesama saudaranya menjadi factor utama wujudnya relawan. Uluran bantuan dan kepedulian terhadap sesama adalah simponi kehidupan yang menambah indah arti kehidupan. Tidak mengherankan jika dalam suatu kondisi mereka –para relawan- menjadi mulia dan dipuja. Namun boleh jadi, dalam kesempatan lain bisa dicerca dan dihina, hanya karena ingin menjadi “relawan sebenarnya”.
Dalam Islam, dunia kerelawanan sebenarnya telah lama dipraktekkan. Keberadaan para sahabat di sekitar Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam-  menjadi cerminan relawan sejati. Mereka –para sahabat Nabi- menyadari betul bahwa hidupnya didedikasikan untuk menolong dakwah Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- tanpa memikirkan gaji ataupun insentif yang akan didapatkan secara materi duniawi. Namun sesuatu yang pasti mereka harapkan adalah ridho dan janji Allah ta’ala. Merekalah relawan sejati yang mendapatkan sanjungan dari Ar Rohmân dan  dalam Al Qurân :
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (29(
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya adalah orang-orang yang bersikap tegas terhadap orang-orang kafir dan bersikap lemah lembut di antara mereka. Engkau melihat mereka dalam kondisi ruku’ dan sujud, mereka mencari karunia dan keridhoan dari Allah. Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurot dan sifat-sifat mereka dalam Injil yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, lalu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya, tanaman itu menyenangkan hati para penanam karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih di antara mereka ampunan dan pahala besar”. (QS. Al Fath : 29)
Menjadi seorang relawan dakwah maupun kemanusiaan sebagai ujud solidaritas terhadap sesama bukanlah perkara mudah. Seorang relawan tentulah memahami dan menyadari bahwa “dunia” yang diterjuninya merupakan dunia penuh resiko dan pengorbanan. Sebuah dunia yang menguji makna kesabaran dan ketawakkalan kepada Robb Penguasa alam.
Beratnya tantangan yang dihadapi seorang relawan baik dalam misi dakwah ataupun misi kemanusiaan menuntut kesabaran tinggi. Di antara tantangan yang dihadapi adalah seperti meninggalkan keluarga demi suatu tugas yang tidak terlalu menjanjikan materi duniawi. Setiap hari berhadapan dengan problematika umat yang jarang sekali orang peduli dengannya. Ada kalanya harus berkorban dana dan tenaga demi tercapainya tujuan mulia agar umat terlayani hajat hidupnya dan faham dengan agamanya. Tidak mengherankan jika Allah menyanjung amalan ini melalui firman-Nya :
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (33(
“Siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal sholih dan berkata : sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri”. (QS. Fushilat : 33)
Mengenai penjelasan ayat tersebut, Imam Hasan al Bashri berkata : “Inilah kekasih Allah, dia lah wali Allah, dia lah hamba pilihan Allah. Inilah makhluq yang paling dicintai oleh Allah, dirinya menjawab seruan Allah dan mengajak manusia menuju kepada seruan-Nya, lalu mengerjakan amal sholih dalam ketaatan kepada-Nya dan berkata : sesungguhnya diriku bagian dari orang-orang Islam, maka inilah kholifatulloh”.[1]
Bagi seorang muslim dan muslimah, menjadi relawan Islam sejatinya menjadi tuntutan iman. Karena Allah ta’ala menyeru :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا أَنْصَارَ اللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّينَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ فَآمَنَتْ طَائِفَةٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَكَفَرَتْ طَائِفَةٌ فَأَيَّدْنَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَى عَدُوِّهِمْ فَأَصْبَحُوا ظَاهِرِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikut setianya (hawariyyin): “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pegikut-pengikutnya yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah”, lalu segolongan dari bani israil beriman dan segolongan lain kafir, maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu menjadi pemenang”. (QS. Al Shoff : 14)
Imam Ibnu Jarir al Thobari menukil perkataan Qotadah dalam tafsirnya : “Allah telah memiliki penolong-penolong agama-Nya dari umat ini yang senantiasa berjihad di atas Kitab-Nya dan hak-Nya”. Disebutkan pula bahwa ada 72 orang Anshor (dari Madinah) yang berbai’at kepada Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam- di malam ‘Aqobah. Kemudian sebagian di antara mereka berkata: “Apakah kalian tahu atas perkara apa kalian berbai’at dengan Nabi Muhammad?  Sesungguhnya kalian berbai’at dalam rangka memerangi seluruh bangsa Arab sampai mereka berislam”.[2]
Imam Al Qurthubi menjelaskan dalam tafsirnya : “Dia (Allah) telah meneguhkan perintah jihad, jadilah kalian penolong-penolong nabi kalian agar Allah memenangkan kalian atas orang-orang yang menyelisihi kalian sebagaimana Allah telah memenangkan pengikut-pengikut Isa atas orang-orang yang menyelisihi mereka”.[3]
Dari sini lah pandangan seorang relawan tentang siapa sebenarnya dirinya bermula. Seorang relawan sejatinya tidaklah bekerja melainkan menjadi penolong Nabi. Dirinya tidaklah beraktifitas melainkan menjadi pejuang bagi Allah. Sungguh amalan agung nan mulia. Pekerjaan yang sudah seharusya dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan sekuat tenaga. Karena amalan tersebut akan dipersembahkan untuk Allah Robb semesta alam, itulah ibadah. Tidak ada cara lain bagi seorang hamba agar ibadahnya diterima kecuali hanya dengan ikhlas.
Keikhlasan inilah yang menjadi “energi” hebat bagi seorang relawan Islam. Karena hanya dengan ikhlas, seorang relawan mampu mengorbankan apa yang dimilikinya dari harta dan jiwanya sekalipun. Ikhlas adalah mesin penggerak yang mampu mendorong seorang relawan melakukan suatu hal besar yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain. Lihatlah bagaimana para sahabat Nabi yang berbondong-bondong memenuhi seruan Nabi untuk menghadapi serbuan pasukan kafirin salibis Romawi. Mereka datang untuk ikut serta berperang menemani Nabi tercinta. Uniknya, mereka ikut berperang bukan hanya untuk mendapatkan gaji sebagai seorang tentara. Namun justru mereka mendaftarkan diri dengan membawa harta dan jiwa mereka di hadapan Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam-.
Hingga didapatkan orang-orang yang berlinang air matanya dikarenakan tidak memiliki perbekalan untuk ikut serta menemani Nabi dalam perang suci. Itulah yang terjadi dalam sejarah perjuangan generasi awal Islam di perang Tabuk. Ketulusan hati mereka diabadikan dalam Al Qurân :
“Tiada dosa (lantaran tidak bisa pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang sakit, dan atas orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (91). Dan tiada pula berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu supaya kamu memberi mereka kendaraan lalu kamu berkata: “aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawa mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan (92)”. (QS. At Taubah: 91 – 92)
Ikhlas menjadi obat kegundahan hati relawan Islam. Di saat anak-anak dunia (baca: pecinta dan pencari dunia) sering menuntut materi dan gaji, di saat mereka ogah-ogahan berkarya karena minimnya fasilitas, maka seorang relawan Islam akan tetap terus berjuang meski dengan minimnya fasilitas. Dirinya akan tetap terus berjuang meski tidak ada lagi harapan gaji besar. Dirinya akan tetap terus tegar menjadi tameng hidup Islam meski janji naik pangkat jabatan dunia tidak didapatkan. Kenapa sampai seberani itu ? karena seorang relawan Islam tahu betul dan meyakini bahwa yang mencukupi hidupnya adalah Allah. Keikhlasan dirinya membawa pada satu maqom mulia yaitu hadirnya kebersamaan dengan Allah (ma’iyyatullah). Apalagi yang dirisaukan oleh seorang relawan Islam ?! sementara hidupnya telah ditanggung dan dicukupi oleh Allah dari arah yang tak disangka-sangka. Allah  berfirman :
أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِنْ دُونِهِ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ
“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-Nya. Dan mereka menakutimu dengan (sembahan-sembahan) selain Allah. Dan barang siapa yang disesatkan Allah maka tidak seorangpun pemberi petunjuk baginya”.(QS. Az Zumar : 36)
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا (3(
“… Barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari  arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya) sesungguhnya Allah melaksanakan urusannya yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tipa sesuatu”. (QS. Ath Tholaq: 2 – 3)
Bagi relawan Islam yang siap memperjuangkan hak-hak Allah ta’ala, keridhoan Ar Rohman adalah obsesi tertingginya. Itulah gambaran yang didapatkan dari relawan Islam generasi awal (para sahabt Nabi). Tidak didapatkan keluh kesah dalam menjalankan tugas relawan di sekitar Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam-. Meskipun mereka harus mengeluarkan apa yang mereka miliki dari harta dan jiwanya. Dan kehidupan mereka pun juga tidak terlunta-lunta. Inilah perkara yang mungkin tidak bisa diterima oleh nalar seorang pragmatis opurtunis. Namun inilah kenyataan dan bukti kebenaran janji Ar Rohman untuk relawan Islam. 
7 Alasan Kenapa Jadi Relawan Akan Menjadikan Hidupmu Sendiri Lebih Ringan

1.      Menjadi Relawan Bisa Memperluas Pergaulanmu, Karena Kamu Bakal Punya Kesempatan Untuk Mengenal Orang-Orang Baru.

2.      Dengan Menjadi Relawan, Kamu Bisa Melihat Prespektif Baru Yang Sebelumnya Belum Pernah Kamu Tahu

3.      Kamu Punya Kesempatan Lebih Mengenal Dirimu Sendiri Dan Lingkunganmu

4.      Secara Kesehatan, Kegiatan Menjadi Relawan Baik Untuk Kesehatan Mental Lho. Karena Bisa Mengurangi Stres Dan Membuatmu Lebih Bahagia

5.      Menjadi Relawan Juga Menjadi Nilai Plus Untuk Prospek Kerjamu Nanti

6.      Kamu Ingin Menggali Minat dan Bakatmu Lebih Dalam? Kamu Bisa Berkreasi Sepuasnya Di Kegiatan Ini.

7.      Dengan Menjadi Relawan, Kamu Jadi Tahu Bahwa Uang Bukanlah Segala-Galanya.

Wallahu a’lam bis showab
Ust Abdul Muchith, M. Ag(Blogger:kangmuysolution)

CATATAN KAKI
[1] Muhammad bin Jarir, Abu Ja’far al Thobari, Jâmi’ul Bayân fii ta’wiil Āyil Qurân, (Muassasah al Risalah, cet. I, th. 1420 H – 200  M), juz 21 hal 469
[2] Muhammad bin Jarir, Abu Ja’far al Thobari, Jâmi’ul Bayân fii ta’wiil Āyil Qurân, juz 23 hal 365
[3] Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Syamsuddin al Qurthubi, al Jâmi’ li Ahkâm al Qurân,(Kairo: Dâr al Kutub al Mishriyyah, cet. II, th. 1384 H – 1964 M) juz 18 hal 89


Minggu, 31 Januari 2016

bersyukur karena 10.000

bersyukur karena 10.000
Ada seorang sahabat menuturkan kisahnya. Dia bernama Budiman. Sore itu ia menemani istri dan seorang putrinya berbelanja kebutuhan rumah tangga bulanan di sebuah toko swalayan. Usai membayar, tangan-tangan mereka sarat dengan tas plastik belanjaan.
Baru saja mereka keluar dari toko swalayan, istri Budiman dihampiri seorang wanita pengemis yang saat itu bersama seorang putri kecilnya. Wanita pengemis itu berkata kepada istri Budiman, "Beri kami sedekah, Bu!"

Istri Budiman kemudian membuka dompetnya lalu ia menyodorkan selembar uang kertas berjumlah 1000 rupiah. Wanita pengemis itu lalu menerimanya. Tatkala tahu jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan, ia lalu menguncupkan jari-jarinya mengarah ke mulutnya. Kemudian pengemis itu memegang kepala anaknya dan sekali lagi ia mengarahkan jari-jari yang terkuncup itu ke mulutnya, seolah ia ingin berkata, "Aku dan anakku ini sudah berhari-hari tidak makan, tolong beri kami
tambahan sedekah untuk bisa membeli makanan!"

Mendapati isyarat pengemis wanita itu, istri Budiman pun membalas isyarat dengan gerak tangannya seolah berkata, "Tidak... tidak, aku tidak akan menambahkan sedekah untukmu!"
Ironisnya meski tidak menambahkan sedekahnya, istri dan putrinya Budiman malah menuju ke sebuah gerobak gorengan untuk membeli cemilan. Pada kesempatan yang sama Budiman berjalan ke arah ATM center guna mengecek saldo rekeningnya. Saat itu memang tanggal gajian, karenanya Budiman ingin mengecek saldo rekening dia.
Description: kisah inspirasi
Di depan ATM, Ia masukkan kartu ke dalam mesin. Ia tekan langsung tombol INFORMASI SALDO. Sesaat kemudian muncul beberapa digit angka yang membuat Budiman menyunggingkan senyum kecil dari mulutnya. Ya, uang gajiannya sudah masuk ke dalam rekening.
Budiman menarik sejumlah uang dalam bilangan jutaan rupiah dari ATM. Pecahan ratusan ribu berwarna merah kini sudah menyesaki dompetnya. Lalu ada satu lembar uang berwarna merah juga, namun kali ini bernilai 10 ribu yang ia tarik dari dompet. Uang itu Kemudian ia lipat kecil untuk berbagi dengan wanita pengemis yang tadi meminta tambahan sedekah.

Saat sang wanita pengemis melihat nilai uang yang diterima, betapa girangnya dia. Ia pun berucap syukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Budiman dengan kalimat-kalimat penuh kesungguhan: "Alhamdulillah... Alhamdulillah... Alhamdulillah... Terima kasih tuan! Semoga Allah memberikan rezeki berlipat untuk tuan dan keluarga. Semoga Allah memberi kebahagiaan lahir dan batin untuk tuan dan keluarga. Diberikan karunia keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Rumah tangga harmonis dan anak-anak yang shaleh dan shalehah. Semoga tuan dan keluarga juga diberi kedudukan yang terhormat kelak nanti di surga...!"

Budiman tidak menyangka ia akan mendengar respon yang begitu mengharukan. Budiman mengira bahwa pengemis tadi hanya akan berucap terima kasih saja. Namun, apa yang diucapkan oleh wanita pengemis tadi sungguh membuat Budiman terpukau dan membisu. Apalagi tatkala sekali lagi ia dengar wanita itu berkata kepada putri kecilnya, "Dik, Alhamdulillah akhirnya kita bisa makan juga....!"
Deggg...!!! Hati Budiman tergedor dengan begitu kencang. Rupanya wanita tadi sungguh berharap tambahan sedekah agar ia dan putrinya bisa makan. Sejurus kemudian mata Budiman membuntuti kepergian mereka berdua yang berlari menyeberang jalan, lalu masuk ke sebuah warung tegal untuk makan di sana.

Budiman masih terdiam dan terpana di tempat itu. Hingga istri dan putrinya kembali lagi dan keduanya menyapa Budiman. Mata Budiman kini mulai berkaca-kaca dan istrinya pun mengetahui itu. "Ada apa Pak?" Istrinya bertanya.

Dengan suara yang agak berat dan terbata Budiman menjelaskan: "Aku baru saja menambahkan sedekah kepada wanita tadi sebanyak 10 ribu rupiah!"

Awalnya istri Budiman hampir tidak setuju tatkala Budiman mengatakan bahwa ia memberi tambahan sedekah kepada wanita pengemis. Namun Budiman kemudian melanjutkan kalimatnya:
"Bu..., aku memberi sedekah kepadanya sebanyak itu. Saat menerimanya, ia berucap hamdalah berkali-kali seraya bersyukur kepada Allah. Tidak itu saja, ia mendoakan aku, mendoakan dirimu, anak-anak dan keluarga kita. Panjaaaang sekali ia berdoa!

Dia hanya menerima karunia dari Allah Swt sebesar 10 ribu saja sudah sedemikian hebatnya bersyukur. Padahal aku sebelumnya melihat di ATM saat aku mengecek saldo dan ternyata di sana ada jumlah yang mungkin ratusan bahkan ribuan kali lipat dari 10 ribu rupiah. Saat melihat saldo itu, aku hanya mengangguk-angguk dan tersenyum. Aku terlupa bersyukur, dan aku lupa berucap hamdalah.

Bu..., aku malu kepada Allah! Dia terima hanya 10 ribu begitu bersyukurnya dia kepada Allah dan berterimakasih kepadaku. Kalau memang demikian, siapakah yang pantas masuk ke dalam surga Allah, apakah dia yang menerima 10 ribu dengan syukur yang luar biasa, ataukah aku yang menerima jumlah lebih banyak dari itu namun sedikitpun aku tak berucap hamdalah."

Budiman mengakhiri kalimatnya dengan suara yang terbata-bata dan beberapa bulir air mata yang menetes. Istrinya pun menjadi lemas setelah menyadari betapa selama ini kurang bersyukur sebagai hamba. Ya Allah, ampunilah kami para hamba-Mu yang kerap lalai atas segala nikmat-Mu

kisah hikmah ayah dan gagak

Pada suatu sore seorang ayah bersama anaknya yang baru saja menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka.
Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pohon. Si ayah lalu menunjuk ke arah gagak sambil bertanya, “Nak, apakah benda tersebut?”
“Burung gagak,” jawab si anak.
Si ayah mengangguk-angguk, namun beberapa saat kemudian mengulangi lagi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi lalu menjawab dengan sedikit keras.
“Itu burung gagak ayah!”

Tetapi sejenak kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang sama. Si anak merasa agak marah dengan pertanyaan yang sama dan diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih keras, “BURUNG GAGAK!!”
Si ayah terdiam seketika. Namun tidak lama kemudian sekali lagi mengajukan pertanyaan yang sama sehingga membuatkan si anak kehilangan kesabaran dan menjawab dengan nada yang ogah-ogahan menjawab pertanyaan si ayah, “Gagak ayah.......”.
Tetapi kembali mengejutkan si anak, beberapa saat kemudian si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanyakan pertanyaan yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar kehilangan kesabaran dan menjadi marah.
Description: kisah kisah inspirasi terbaik
“Ayah!!! saya tidak mengerti ayah mengerti atau tidak. Tapi sudah lima kali ayah menanyakan pertanyaan tersebut dan sayapun sudah memberikan jawabannya. Apakah yang ayah ingin saya katakan???? Itu burung gagak, burung gagak ayah.....”, kata si anak dengan nada yang begitu marah.

Si ayah kemudian bangkit menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang terheran-heran. Sebentar kemudian si ayah keluar lagi dengan membawa sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih marah dan bertanya-tanya. Ternyata benda tersebut sebuah diari lama.
“Coba kau baca apa yang pernah ayah tulis di dalam buku diary itu”, pinta si ayah.
Si anak taat dan membaca bagian yang berikut..........
“Hari ini aku di halaman bersama anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya, “Ayah, apakah itu?”.

Dan aku menjawab, “Burung gagak”.

Walau bagaimana pun, anak ku terus bertanya pertanyaan yang sama dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sampai 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi rasa cinta dan sayang aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap bahwa hal tersebut menjadi suatu pendidikan yang berharga.”


Setelah selesai membaca bagian tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si ayah yang kelihatan sayu.
Si ayah dengan perlahan bersuara, “ Hari ini ayah baru menanyakan kepadamu pertanyaan yang sama sebanyak lima kali, dan kau telah kehilangan kesabaran dan marah.”

kisah hikmah.1 jam tanpa salah

Seorang anak bertanya pada ibunya,
"Apakah kita bisa hidup, tanpa berbuat salah selama hidup kita.

Ibunya menjawab, dengan lembut
"Tidak bisa, Nak."

Sang anak bertanya lagi,
"Apa kita bisa hidup tanpa berbuat salah dalam setahun"

Sambil tersenyum, ibunya
menggelengkan kepala seraya berkata,
"Tidak bisa juga, Nak."

Anak pun bertanya kembali,
"Apa kita bisa hidup dalam 1 bulan tanpa melakukan kesalahan.“

Ibunya tertawa sambil menjawab,
"Tak bisa juga, sayang.."

Anak pun bertanya lagi,
"Ini yang terakhir, Ibu. Apa kita bisa hidup tanpa berbuat salah dalam 1 jam ?"

Akhirnya ibunya mengangguk dan berkata, "Kemungkinan bisa, Nak."

Sang anak langsung berkata,
"Jika begitu, aku akan belajar hidup benar dari jam ke jam."

Dari latihan Ɣªήg kecil dan sederhana, akan menjadi terbiasa.
Apa Ɣªήg sudah terbiasa,
akan menjadi sifat.
Sifat akan menjadi karakter.

Cobalah Hidup 1 jam TANPA :
marah,
hati jahat,
pikiran negatif,
menjelekkan orang, serakah, benci, sombong, egois.

Hiduplah 1 jam DENGAN:
Kasih Sayang, Sabar, Lemah Lembut, Murah hati, Rendah Hati, Pengendalian Diri.

Ulangi selama 1 jam berikut nya, dan 1 jam seterusnya.

Mampu mengendalikan diri atas segala sesuatu dg penuh kerendahan hati dan kasih sayang, adalah cermin dari pribadi Ɣªήg berjiwa besar