Selasa, 16 Februari 2016

“MAYDAY” DALAM PERSPEKTIF ISLAM

“MAYDAY” DALAM PERSPEKTIF ISLAM
ABDUL MUCHITH, M. Ag
(Kang Muy Solution/Mengkaji menginspirasi dan memotivasi )

Marilah kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah
Hari buruh dunia atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mayday diperingati setiap tanggal 1 Mei. Penetapan tanggal 1 Mei sebagai hari buruh dunia terilhami dari kesuksesan aksi buruh di Negara Kanada pada tahun 1872. Ketika itu buruh melakukan aksi menuntut pengurangan jam kerja yang sebelumnya jam kerja berdurasi 19-20 jam/hari berubah menjadi 8 jam kerja/hari, dan tuntutan yang para buruh lakukan pun disetujui. Sehingga delapan jam kerja per hari di Kanada resmi diberlakukan mulai tanggal 1 Mei 1886.
Di Indonesia, perjuangan yang dilakukan oleh para buruh sudah dilakukan dalam jangka waktu lebih dari sembilan puluh tahun. Karena Indonesia tercatat sebagai negara Asia pertama yang merayakan tanggal 1 Mei sebagai hari buruh, perjuangan para buruh di Indonesia untuk menuntut haknya membuahkan hasil melalui pengesahan UU Kerja No. 12 Tahun 1948, pada pasal 15 ayat 2, dinyatakan bahwa “Pada hari 1 Mei buruh dibebaskan dari kewajiban kerja.”. Tapi peringatan hari buruh di Indonesia juga sempat mengalami fluktuatif pergerakan ketika zaman orde baru, karena semasa orba aksi untuk peringatan May Day masuk kategori aktivitas pemberontakan yang bertujuan untuk “menggulingkan” pemerintahan dan juga diidentikkan dengan ideologi komunis. Akan tetapi setelah era orde baru berakhir, walaupun bukan hari libur, setiap tanggal 1 Mei kembali marak dirayakan oleh buruh di Indonesia dengan demonstrasi di berbagai kota.
Oleh karena itu, untuk memberikan solusi dari tiap permasalahan sistem honor yang layak diterima para buruh sebagai hak yang harus diterimanya. Mari kita kaji dari sudut pandang islam mengatur prinsip-prinsip pemberian honor terhadap buruh/pekerja. Islam menempatkan kaum buruh sedemikian tinggi, sebagaimana yang diriwayatkan dalam suatu hadist nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan muslim, Amsyu bin Maqruri Bin Suwaid, berkata : “kami melewati Abu Dzar di Rabadzah dan ia mengenakan Burdun (baju rangkap) begitu juga budaknya. Abu Dzar ra berkata :“ pernah terjadi kata-kata kasar antara saya dan saudara saya yang Ibunya bukan bangsa Arab (Sahaya), saya hinakan ia dari segi Ibunya. Lalu dia mengadu kepada Rasulullah SAW. Maka setelah saya berjumpa Rasulullah SAW, Beliau berkata : “Kamu ini orang yang memiliki sifat Jahiliyah, hai Abu Dzarr ”. Kata Saya: Barang siapa yang memaki-maki orang tentu bapak dan ibunya akan dimaki-maki pula. Berkata Beliau : “Sesungguhnya kamu ini orang yang memiliki sifat jahiliyah, sahaya-sahaya itu adalah saudara kamu pula yang kebetulan di bawah tangan kamu. Maka berilah makan seperti kamu makan, berilah pakaian seperti kamu pakai, dan janganlah mereka dipaksa bekerja lebih dari tenaga mereka, jika akan dipaksakan juga mereka harus kamu bantu”
Dari hadist tersebut terkandung ajakan untuk memperlakukan para pekerja/buruh sebagaimana memperlakukan diri kita sendiri. Selain itu terdapat juga ajakan untuk lemah lembut dan tidak merasa mempunyai strata sosial dibandingkan para buruh. Dengan demikian gap yang ada antara pimpinan/bos dengan buruh dapat terminimalisir. Sehingga berlakulah ayat al-ahqaf:19
9e@à6Ï9ur ×M»y_uyŠ $­IÊeE (#qè=ÏHxå ( öNåkuŽÏjùuqãÏ9ur öNßgn=»uHùår& öNèdur Ÿw tbqçHs>ôàムÇÊÒÈ
, “Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan.”
Selanjutnya apabila sudah terjadi keharmonisan antara buruh dan pimpinannya, dibutuhkan juga peran serta pemerintah untuk membuat regulasi yang mengatur sistem honor di setiap perusahaan yang ada.
Syariat Islam pun telah memberikan hukum-hukum yang harus diperhatikan bagi para majikan untuk memberikan perlindungan bagi si pekerja. Hal - hal tersebut menyangkut :

1.       Perlindungan terhadap pekerja dan waktu istirahat yang layak. Dalam hal ini Rosulullah SAW bersabda : " Sesungguhnya tubuhmu mempunyai hak atas dirimu".
2.       Jaminan penghidupan bagi pekerja Rosulullah SAW bersabda : " Barang siapa bekerja pada kami dan dia tidak memiliki rumah, maka hendaklah dia mau mengambil rumah, jika dia tidak mempunyai istri, maka hendaklah dia dipermudah menikah atau jika dia tidak mempunyai kendaraan maka hendaklah dia mengambil kendaraannya". ( HR. An Nasa'i )
3.       Menyegerakan gaji / upah Dalam Islam hendaknya gaji dibayarkan secepat mungkin dan sesuai dengan kesepakatan yang telah dicapai. Dalam hal ini Rosulullah SAW bersabda : " Berikanlah gaji pekerja sebelum kering keringatnya". ( HR. Ibnu Majah )
Konsep pensejahteraan buruh dalam pandangan islam bertujuan guna memenuhi kebutuhan dasar (makanan,pakaian,dan perumahan) dari setiap individu tanpa adanya pembedaan untuk mendapatkan sumber daya yang tersedia secara bijaksana. Karena pemenuhan kebutuhan dasar membuat para buruh akan mampu untuk melakukan kegiatan produksi secara maksimal dan bekerja dengan optimal. Dengan demikian para pimpinan/bos juga dapat meraih keuntungan lebih di perusahaannya, dan juga pemerintah akan merasakan kebermanfaatannya dengan kemajuan perekonomian suatu negara. Sehingga benarlah pendapat Umar Chapra salah seorang ekonomi Islamic Development Bank (IDB), bahwa tujuan Syariah islam untuk merealisasikan kesejahteraan manusia tidak hanya terdapat pada kesejahteraan secara ekonomi, tetapi juga persaudaraan dan keadilan sosio-ekonomi, kedamaian dan kebahagiaan jiwa, serta keharmonisan keluarga sosial.
Buruh Beraksi, Pengusaha Menepati Janji, Pemerintah Membuat Regulasi.
Subhanallah, begitu mulianya perlakuan Islam terhadap buruh, Islam memandang mereka sebagai sesama manusia yang juga memiliki martabat dan harkat yang sama dengan insan yang lainnya. Olehnya, dengan sedikit memanfaatkan akal yang diberikan oleh Allah SWT., maka kita dapat menarik I’tibar dan semakin menguatkan keyakinan kita terhadap kebenaran Islam.
Pesan nabi “ittqillaha haitsu ma kunta/bertaqwalah kepada Allah dimanapun kamu berada”
Ada sebuah kisah karyawan yang bertaqwa kepada Allah SWT. Yang berkorelasi dengan hadis ini, seperti kisah seorang anak gembala yang di uji oleh sang presiden Umar bin Khattab ( seorang presiden bertemu dengan seorang penggembala, lalu Umar mengajak interaktif dengan anak tsb, “ya ghulam, maukah kamu, kambingmu Aku beli” kemudian sang anak berkata “hai Tuan, menurut jobdiscription saya,Saya disuruh oleh tuan saya, hanya untuk mengeluarkan kambing dari kandangnya, memberi makan dan memasukkannya kembali kekandangnya” kemudian sang presiden merayu “ Saya beli 10 kali lipat harga pasaran” sang gembala tetap tidak mau. Kemudian presiden mengatakan padanya “Kamu bilang saja pada tuanmu, bahwa kambingnya dimakan Harimau atau binatang buas” kemudian sang anak berkata. “Hai tuan, Fa ainallah”(dimana Allah)
Kisah ini menginspirasi pada kita semua, bahwa anak tersebut sebagai karyawan sudah mampu menanamkan dalam dirinya khosyah ilalloh. Dan mari kita tanamkan pada keseharian kita. Juga dalam pekerjaan kita,kita bekerja bukan hanya bertanggung jawab pada atasan kita,kolega kita, direktur kita, tapi kita juga bertanggung jawab pada Allah swt.  atasan kita bisa kita bohongi,karyawan bisa kita bohongi,tapi Allah swt. Dia maha mengetahui segala-galanya.

Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk selalu meningkatkan kualitas dan kuantitas pekerjaan dan ibadah kita kepada Allah swt.dan semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita semua amin ya robbal alamin
ÎŽóÇyèø9$#ur ÇÊÈ   ¨bÎ) z`»|¡SM}$# Å"s9 AŽô£äz ÇËÈ   žwÎ) tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# (#öq|¹#uqs?ur Èd,ysø9$$Î/ (#öq|¹#uqs?ur ÎŽö9¢Á9$$Î/ ÇÌÈ   

Barakalllahu li wa lakum fil qur’anil karim, wataqobbal minnii wa minkum bitilawatihi, innahu huwal ghafururrahim

Empat Pilar Penyangga Kehidupan Masyarakat/ khutbah jumat

Empat Pilar Penyangga Kehidupan Masyarakat


Marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT. Yaitu, dengan senantiasa melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi segala larangan-laranganNya. Sebab dengan iman dan taqwa inilah, manusia akan selamat di dunia dan akhirat.
Maju mundurnya masyarakat tidak lepas dari kesediaan kita untuk saling menopang di dalam kehidupan. Kita tidak bisa hidup sendirian. Apapun kekuatan dan kehebatan yang kita miliki, sama sekali tidak akan berguna untuk membangun kehidupan dan kesejahteraan bersama, manakala tidak didasari rasa saling membantu dan kebersamaan untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Qiwamud dunya bi arba’ati asya’a: awwaluha bi’ilmil ulama,wassani bi’adlil umaro,wassalisu bisakhowatil aghniya warrobi’u bida’watil fuqoro”“Dunia ditegakkan dengan empat hal : ilmu para 'ulama, pemimpin yang adil, kedermawanan orang-orang kaya dan do’a orang-orang fakir (HR. Bukhari).”
Sabda junjungan kita Muhammad SAW ini mengajarkan kepada kita agar memperhatikan empat pilar atau sendi-sendi kehidupan, supaya kehidupan benar-benar tenteram karta raharja.
Pilar yang pertama adalah ilmunya ulama. Ilmu para ‘ulama diperlukan agar setiap orang dapat memperoleh kejelasan mana yang haq dan bathil, mana yang haram dan halal. ‘Ulama ibarat cahaya yang menerangi bumi. Jika cahaya ini telah rusak dan redup, maka manusia akan tersesat; tidak tahu lagi mana yang haq dan bathil. Dan ulama adalah warosatul ambiya/pewaris para nabi.Dan sebagai Jemaah mari kita cari ilmu dari guru yang menurut kita mampu dan mumpuni dalam keilmuannya.
Kedua : Pemimpin yang adil. Sesungguhnya jabatan bisa menjadi rahmat. Manakala kekuasaan yang dimiliki menjadikannya rendah hati dan mempergunakan wewenang yang dimilikinya untuk kebaikan ummat. Sebab jabatan adalah sebuah amanah. Sebaliknya jabatan bisa mendatangkan laknat dan murka Allah, manakala wewenang yang dimilikinya dipergunakan semena-mena dan semaunya sendiri.
Kita semua juga harus belajar bahwa ketika memilih seorang pemimpin, mulai dari pemimpin keluarga, kelompok, desa hingga pemimpin yang paling tinggi sekalipun, dasarnya bukan hanya suka atau tidak suka kepada seseorang. Tidak hanya sekedar melihat asal muasal, kekayaan dan pamrih dari si pemimpin. Kita harus memperhatikan kepribadiannya. Kepribadian ini dapat dilihat dari sikap, keberanian, konsep, ilmu dan akhlaknya. Nabi SAW bersabda :
“Manusia itu menurut agama pemimpinnya.” (HR. Ibnu Majahi)
Nabiyullah Musa AS. pernah bertanya kepada Allah SWT. "Ya Tuhan, siapakah di antara hamba-Mu orang yang paling adil ?" Allah SWT. menjawab, "Wahai Musa, di antara hamba-Ku orang yang paling adil adalah pemimpin yang memperlakukan umatnya (rakyat)-nya persis seperti memperlakukan kepada keluarganya sendiri."
Yakni, orang-orang yang dipimpin atau masyarakat sangat tergantung pada pemimpinnya. Akhlak dan sikap pemimpin akan menentukan akhlak dan sikap orang-orang yang dipimpinnya. Jika pemimpinnya berakhlak baik, niscaya orang-orang yang menjadi bawahannya pun akan berakhlak baik pula. Jika pemimpinnya mampu menegakkan amar ma'ruf nahi munkar, niscaya orang-orang yang menjadi bawahannya pun turut demikian.
Namun ingatlah saudara-saudaraku, pemimpin yang adil tidak akan terwujud kalau tidak memperoleh dukungan dari orang-orang yang ikhlash, berani dan cerdik. Sebab adakalanya kejahatan justru dapat mengalahkan kebenaran. Kejujuran saja tidak cukup, melainkan juga harus disertai kecerdikan dan keberanian supaya tidak tertipu daya oleh berbagai macam godaan yang menyeret pemimpin ke dalam kedzaliman.
Oleh sebab itu, diantara sifat pemimpin yang adil adalah pemimpin yang berani memisahkan yang haq dan bathil (yang benar dan salah). Inilah yang dilakukan oleh Khalifah Umar ibn al Khatab ra. Dengan kekuatan dan keberaniannya, orang-orang yang akan berbuat curang di dalam pemerintahan takut terhadapnya dan masyarakat merasa dilindungi. Keberanian ini tumbuh karena Khalifah Umar bin Khatab ra takut kepada Allah SWT. Sebaliknya jika tidak takut kepada Allah SWT; maka yang terjadi adalah lupa diri dan sombong.. Dan ketahuilah saudara-saudaraku, bahwa setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya sendiri.
Pilar yang Ketiga adalah kedermawanan orang-orang kaya. Di dalam kekayaan itu terdapat keharusan berbagi dengan sesama. Kepedulian diperlukan agar orang-orang yang membutuhkan, terutama fakir miskin dapat memperoleh kesejahteraan, dan memiliki martabat yang setara diantara sesama manusia. Orang kaya ibarat “Bendahara Tuhan,” yang harus membelanjakan hartanya untuk kemaslahatan ummat. Jika orang-orang kaya bersifat boros dan menghambur-hamburkan kekayaannya untuk kepentingan diri sendiri atau hawa nafsunya, niscaya akan makin banyak orang-orang yang terlantar, tidak berpendidikan, dan tidak hidup layak diantara sesama manusia.
Pilar yang Keempat adalah do’a orang-orang fakir. Ketabahan dan kesabaran orang-orang fakir akan menuntun masyarakat ke dalam rasa saling memahami dan tolong menolong, serta mampu menahan diri dari perbuatan-perbuatan tercela. Dan karena kebaikan-kebaikan para pemimpin, para cerdik pandai, ulama, dan orang-orang kaya itulah; orang-orang miskin berdo’a agar kita semua memperoleh kebajikan di dunia dan akhirat. Jika tidak, mereka tidak akan mendoakan kebaikan, melainkan justru akan melaknat dan mengutuk.Hidup ini, tidak lain hanyalah agar kita bersama-sama bisa membangun masyarakat yang lebih baik. Dan sesungguhnya kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatannya. Kita akan datang ke alam akhirat bukan karena kedudukannya, tetapi karena amal ibadahnya, sebagaimana firman-Nya:
öÝàR$# y#øx. $oYù=žÒsù öNåk|Õ÷èt/ 4n?tã <Ù÷èt/ 4 äotÅzEzs9ur çŽt9ø.r& ;M»y_uyŠ çŽy9ø.r&ur WxÅÒøÿs? ÇËÊÈ  
"Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya" )Q.S.17:21)


عَنْ عَلِىّ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ أَنَّهُ قَالَ لاَ يَزَالُ الدِّيْنُ وَ الدُّنْيَا قَائِمَيْنِ مَادَامَتْ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: مَادَامَ اْلأَغْنِيَاءُ لاَ يَبْخَلُوْنَ بِمَا خُوِّلُوْا وَ مَادَامَ الْعُلَمَاءُ يَعْمَلُوْنَ بِمَا عَلِمُوْا وَ مَادَامَ الْجُهَلاَءُ لاَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَمَّا لَمْ يَعْلَمُوْا وَ مَادَامَ الْفُقَرَاءُ لاَ يَبِيْعُوْنَ آخِرَتَهُمْ بِدٌنْيَاهُمْ
 Diriwayatkan dari Sayyidina Ali k.w. bahwa agama dan dunia senantiasa akan tetap berdiri tegak selama ada empat perkara. Yaitu selama orang-orang kaya tidak kikir dengan apa-apa yang telah diberikan kepadanya, selama para ulama masih mengamalkan apa-apa yang diketahuinya, selama orang-orang bodoh tidak sombong dari perkara yang tidak diketahuinya dan selama orang-orang fakir tidak menjual akhiratnya dengan dunia
Empat belas abad lalu, Rasulullah SAW. telah mengingatkan kita bahwa keempat pilar itu harus bersatu,yaitu ulama, umara, aghniya, dan fuqara.
Dunia ini akan hancur kalau tidak ada ulama. Rasulullah SAW. bersabda, "Apabila kehidupan ini tidak ada ulama, manusia akan binasa seperti binatang, bahkan akan lebih kejam daripada binatang. Kedua, manusia akan hancur kalau tidak ada umara. Satu sama lain akan saling membunuh, yang kuat membunuh yang lemah seperti serigala membunuh domba. Ketiga, kaum aghniya, kalau orang-orang kaya tidak berlaku dermawan, maka kaum duafa akan sengsara, karena hak-hak mereka dirampas. Keempat, kaum duafa, kalau tidak ada doanya kaum duafa maka kaum aghniya (orang kaya) akan bangkrut." Dengan demikian, rumus membangun umat, kuncinya, dengan ilmunya ulama, dengan adilnya umara (penguasa), dermawannya kaum aghniya (orang kaya), dan doanya kaum duafa (orang miskinnan lemah)."

Mudah-mudahan dengan tuntunan Allah dan Rasulullah SAW, kita bersama-sama dapat memahami kedudukan masing-masing di dalam masyarakat baik sebagai pemimpin, ulama, orang kaya ataupun dhu'afa, sehingga masyarakat dapat hidup dengan aman dan tenteram; adil dan makmur. Amin ya Rabb al 'alamin