Minggu, 31 Januari 2016

bersyukur karena 10.000

bersyukur karena 10.000
Ada seorang sahabat menuturkan kisahnya. Dia bernama Budiman. Sore itu ia menemani istri dan seorang putrinya berbelanja kebutuhan rumah tangga bulanan di sebuah toko swalayan. Usai membayar, tangan-tangan mereka sarat dengan tas plastik belanjaan.
Baru saja mereka keluar dari toko swalayan, istri Budiman dihampiri seorang wanita pengemis yang saat itu bersama seorang putri kecilnya. Wanita pengemis itu berkata kepada istri Budiman, "Beri kami sedekah, Bu!"

Istri Budiman kemudian membuka dompetnya lalu ia menyodorkan selembar uang kertas berjumlah 1000 rupiah. Wanita pengemis itu lalu menerimanya. Tatkala tahu jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan, ia lalu menguncupkan jari-jarinya mengarah ke mulutnya. Kemudian pengemis itu memegang kepala anaknya dan sekali lagi ia mengarahkan jari-jari yang terkuncup itu ke mulutnya, seolah ia ingin berkata, "Aku dan anakku ini sudah berhari-hari tidak makan, tolong beri kami
tambahan sedekah untuk bisa membeli makanan!"

Mendapati isyarat pengemis wanita itu, istri Budiman pun membalas isyarat dengan gerak tangannya seolah berkata, "Tidak... tidak, aku tidak akan menambahkan sedekah untukmu!"
Ironisnya meski tidak menambahkan sedekahnya, istri dan putrinya Budiman malah menuju ke sebuah gerobak gorengan untuk membeli cemilan. Pada kesempatan yang sama Budiman berjalan ke arah ATM center guna mengecek saldo rekeningnya. Saat itu memang tanggal gajian, karenanya Budiman ingin mengecek saldo rekening dia.
Description: kisah inspirasi
Di depan ATM, Ia masukkan kartu ke dalam mesin. Ia tekan langsung tombol INFORMASI SALDO. Sesaat kemudian muncul beberapa digit angka yang membuat Budiman menyunggingkan senyum kecil dari mulutnya. Ya, uang gajiannya sudah masuk ke dalam rekening.
Budiman menarik sejumlah uang dalam bilangan jutaan rupiah dari ATM. Pecahan ratusan ribu berwarna merah kini sudah menyesaki dompetnya. Lalu ada satu lembar uang berwarna merah juga, namun kali ini bernilai 10 ribu yang ia tarik dari dompet. Uang itu Kemudian ia lipat kecil untuk berbagi dengan wanita pengemis yang tadi meminta tambahan sedekah.

Saat sang wanita pengemis melihat nilai uang yang diterima, betapa girangnya dia. Ia pun berucap syukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Budiman dengan kalimat-kalimat penuh kesungguhan: "Alhamdulillah... Alhamdulillah... Alhamdulillah... Terima kasih tuan! Semoga Allah memberikan rezeki berlipat untuk tuan dan keluarga. Semoga Allah memberi kebahagiaan lahir dan batin untuk tuan dan keluarga. Diberikan karunia keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Rumah tangga harmonis dan anak-anak yang shaleh dan shalehah. Semoga tuan dan keluarga juga diberi kedudukan yang terhormat kelak nanti di surga...!"

Budiman tidak menyangka ia akan mendengar respon yang begitu mengharukan. Budiman mengira bahwa pengemis tadi hanya akan berucap terima kasih saja. Namun, apa yang diucapkan oleh wanita pengemis tadi sungguh membuat Budiman terpukau dan membisu. Apalagi tatkala sekali lagi ia dengar wanita itu berkata kepada putri kecilnya, "Dik, Alhamdulillah akhirnya kita bisa makan juga....!"
Deggg...!!! Hati Budiman tergedor dengan begitu kencang. Rupanya wanita tadi sungguh berharap tambahan sedekah agar ia dan putrinya bisa makan. Sejurus kemudian mata Budiman membuntuti kepergian mereka berdua yang berlari menyeberang jalan, lalu masuk ke sebuah warung tegal untuk makan di sana.

Budiman masih terdiam dan terpana di tempat itu. Hingga istri dan putrinya kembali lagi dan keduanya menyapa Budiman. Mata Budiman kini mulai berkaca-kaca dan istrinya pun mengetahui itu. "Ada apa Pak?" Istrinya bertanya.

Dengan suara yang agak berat dan terbata Budiman menjelaskan: "Aku baru saja menambahkan sedekah kepada wanita tadi sebanyak 10 ribu rupiah!"

Awalnya istri Budiman hampir tidak setuju tatkala Budiman mengatakan bahwa ia memberi tambahan sedekah kepada wanita pengemis. Namun Budiman kemudian melanjutkan kalimatnya:
"Bu..., aku memberi sedekah kepadanya sebanyak itu. Saat menerimanya, ia berucap hamdalah berkali-kali seraya bersyukur kepada Allah. Tidak itu saja, ia mendoakan aku, mendoakan dirimu, anak-anak dan keluarga kita. Panjaaaang sekali ia berdoa!

Dia hanya menerima karunia dari Allah Swt sebesar 10 ribu saja sudah sedemikian hebatnya bersyukur. Padahal aku sebelumnya melihat di ATM saat aku mengecek saldo dan ternyata di sana ada jumlah yang mungkin ratusan bahkan ribuan kali lipat dari 10 ribu rupiah. Saat melihat saldo itu, aku hanya mengangguk-angguk dan tersenyum. Aku terlupa bersyukur, dan aku lupa berucap hamdalah.

Bu..., aku malu kepada Allah! Dia terima hanya 10 ribu begitu bersyukurnya dia kepada Allah dan berterimakasih kepadaku. Kalau memang demikian, siapakah yang pantas masuk ke dalam surga Allah, apakah dia yang menerima 10 ribu dengan syukur yang luar biasa, ataukah aku yang menerima jumlah lebih banyak dari itu namun sedikitpun aku tak berucap hamdalah."

Budiman mengakhiri kalimatnya dengan suara yang terbata-bata dan beberapa bulir air mata yang menetes. Istrinya pun menjadi lemas setelah menyadari betapa selama ini kurang bersyukur sebagai hamba. Ya Allah, ampunilah kami para hamba-Mu yang kerap lalai atas segala nikmat-Mu

kisah hikmah ayah dan gagak

Pada suatu sore seorang ayah bersama anaknya yang baru saja menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka.
Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pohon. Si ayah lalu menunjuk ke arah gagak sambil bertanya, “Nak, apakah benda tersebut?”
“Burung gagak,” jawab si anak.
Si ayah mengangguk-angguk, namun beberapa saat kemudian mengulangi lagi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi lalu menjawab dengan sedikit keras.
“Itu burung gagak ayah!”

Tetapi sejenak kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang sama. Si anak merasa agak marah dengan pertanyaan yang sama dan diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih keras, “BURUNG GAGAK!!”
Si ayah terdiam seketika. Namun tidak lama kemudian sekali lagi mengajukan pertanyaan yang sama sehingga membuatkan si anak kehilangan kesabaran dan menjawab dengan nada yang ogah-ogahan menjawab pertanyaan si ayah, “Gagak ayah.......”.
Tetapi kembali mengejutkan si anak, beberapa saat kemudian si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanyakan pertanyaan yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar kehilangan kesabaran dan menjadi marah.
Description: kisah kisah inspirasi terbaik
“Ayah!!! saya tidak mengerti ayah mengerti atau tidak. Tapi sudah lima kali ayah menanyakan pertanyaan tersebut dan sayapun sudah memberikan jawabannya. Apakah yang ayah ingin saya katakan???? Itu burung gagak, burung gagak ayah.....”, kata si anak dengan nada yang begitu marah.

Si ayah kemudian bangkit menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang terheran-heran. Sebentar kemudian si ayah keluar lagi dengan membawa sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih marah dan bertanya-tanya. Ternyata benda tersebut sebuah diari lama.
“Coba kau baca apa yang pernah ayah tulis di dalam buku diary itu”, pinta si ayah.
Si anak taat dan membaca bagian yang berikut..........
“Hari ini aku di halaman bersama anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya, “Ayah, apakah itu?”.

Dan aku menjawab, “Burung gagak”.

Walau bagaimana pun, anak ku terus bertanya pertanyaan yang sama dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sampai 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi rasa cinta dan sayang aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap bahwa hal tersebut menjadi suatu pendidikan yang berharga.”


Setelah selesai membaca bagian tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si ayah yang kelihatan sayu.
Si ayah dengan perlahan bersuara, “ Hari ini ayah baru menanyakan kepadamu pertanyaan yang sama sebanyak lima kali, dan kau telah kehilangan kesabaran dan marah.”

kisah hikmah.1 jam tanpa salah

Seorang anak bertanya pada ibunya,
"Apakah kita bisa hidup, tanpa berbuat salah selama hidup kita.

Ibunya menjawab, dengan lembut
"Tidak bisa, Nak."

Sang anak bertanya lagi,
"Apa kita bisa hidup tanpa berbuat salah dalam setahun"

Sambil tersenyum, ibunya
menggelengkan kepala seraya berkata,
"Tidak bisa juga, Nak."

Anak pun bertanya kembali,
"Apa kita bisa hidup dalam 1 bulan tanpa melakukan kesalahan.“

Ibunya tertawa sambil menjawab,
"Tak bisa juga, sayang.."

Anak pun bertanya lagi,
"Ini yang terakhir, Ibu. Apa kita bisa hidup tanpa berbuat salah dalam 1 jam ?"

Akhirnya ibunya mengangguk dan berkata, "Kemungkinan bisa, Nak."

Sang anak langsung berkata,
"Jika begitu, aku akan belajar hidup benar dari jam ke jam."

Dari latihan Ɣªήg kecil dan sederhana, akan menjadi terbiasa.
Apa Ɣªήg sudah terbiasa,
akan menjadi sifat.
Sifat akan menjadi karakter.

Cobalah Hidup 1 jam TANPA :
marah,
hati jahat,
pikiran negatif,
menjelekkan orang, serakah, benci, sombong, egois.

Hiduplah 1 jam DENGAN:
Kasih Sayang, Sabar, Lemah Lembut, Murah hati, Rendah Hati, Pengendalian Diri.

Ulangi selama 1 jam berikut nya, dan 1 jam seterusnya.

Mampu mengendalikan diri atas segala sesuatu dg penuh kerendahan hati dan kasih sayang, adalah cermin dari pribadi Ɣªήg berjiwa besar

Minggu, 10 Januari 2016

MAKNA PAI

Makna, Tujuan, dan Metodologi Islam
Berhubung ada yang meminta pengertian berhubungan dengan Islam, saya rangkum dari buku sebagai berikut :
BAB 1
MAKNA, TUJUAN, DAN METODOLOGI MEMAHAMI ISLAM
A.       Makna Islam
Secara etimologis, kata “islam” berasal dari tiga akar kata, yaitu:
-          Aslama artinya berserah diri atau tunduk patuh, yakni berserah diri atau tunduk patuh pada aturan-aturan hidup yang ditetapkan oleh Allah Swt.
-          Salam artinya damai atau kedamaian, yakni menciptakan rasa damai dalam hidup (kedamaian jiwa atau ruh).
-          Salamah artinya keselamatan, yakni menempuh jalan yang selamat dengan mengamalkan aturan-aturan hidup yang ditetapkan oleh Allah Swt.
Adapun secara terminologis, Islam adalah agama yang diturunkan dari Allah Swt kepada umat manusia melalui penutup para Nabi (Nabi Muhammad saw).
Untuk lebih memahami makna islam, perlu dipahami pula makna taslim. Taslim (berserah diri) ada tiga tingkatan, yaitu:
-          Taslim fisik adalah menyerah secara fisik karena dikalahkan oleh lawan yang memiliki fisik lebih kuat.
-          Taslim akal adalah menyerah karena kelemahan dalil, logika, dan argumentasi.
-          Taslim hati, biasanya disebabkan oleh fanatisme, jaga gengsi, takut kehilangan pengikut, atau memang hatinya kufur walaupun akalnya sudah taslim.


B.       Tujuan Syari’ah Islam
Para ulama sepakat bahwa tujuan didatangkannya syari’ah islam adalah untuk menjaga kelima hal berikut, yaitu:
1.      Menjaga dan memelihara agama, hal ini didasarkan oleh:
-  Perlunya melahirkan ulama.
Para Nabi boleh wafat, tapi ajaran islam tidak boleh mati. Pemandu islam harus selalu hadir di tengah-tengah masyarakat. Para ulama itulah yang menjadi pemuka dan pemandu islam di tengah-tengah masyarakat sepanjang jaman. Implikasinya adalah kita wajib menyelenggarakan pendidikan bagi para calon ulama.

-  Membudayakan gerakan belajar agama
Di tingkat lokal dan institusional kita perlu membudayakan belajar agama sepanjang hayat. Kita wajib menyelenggarakan pengajaran agama dimana-mana, di rumah, di mesjid, di kantor, di kampus, dan lain-lain.
-  Perlunya menguasai ilmu-ilmu dasar islam
Para ahli dan praktisi pendidikan islam telah mengembangkan studi paket ilmu-ilmu dasar keislaman. Dengan berbekal ilmu tersebut, diharapkan nantinya kita dapat mengembangkan sendiri ilmu-ilmu tersebut.
-  Ilmu yang fardhu ‘ain
Termasuk ke dalam ilmu ini adalah pengetahuan mengenai tauhid yang benar, zat dan sifat-sifat Allah, cara beribadah yang benar, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan halal dan haram.
-  Melaksanakan kewajiban agama
Mari kita dengar sabda Nabi saw. Kata beliau, yang membedakan antara orang islam dan bukan adalah tarkush-shalat (meninggalkan shalat). Dalam hadits yang lain disebutkan ash-shalatu ‘imaduddin (shalat itu adalah tiang agama). Dalam hadits lainnya juga disebutkan bahwa amal-amal manusia dihitung setelah terlebih dahulu diperiksa shalatnya. Jadi, ciri pertama dan utama orang islam adalah mendirikan shalat. Orang yang mendirikan shalat sudah pasti berpuasa di bulan ramadhan; jika punya kelebihan harta sudah pasti mengeluarkan zakat, infaq, shadaqah; dan jika punya bekal yang cukup sudah pasti menunaikan haji dan umrah. Orang yang mendirikan shalat akan melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
2.       Menjaga dan memelihara jiwa
Anugerah Allah yang paling besar bagi manusia adalah hidup. Oleh karena itu setiap usaha memelihara jiwa manusia sangat dihargai oleh islam. Sebaliknya, segala usaha apapun yang merusak jiwa manusia dikutuk oleh islam. Orang yang menyelamatkan seorang nyawa manusia oleh Allah dipandang sama dengan menyelamatkan seluruh nyawa manusia, sedangkan orang yang membunuh seorang manusia dipandang sama dengan membunuh seluruh manusia.
3.      Menjaga dan memelihara akal
Seruan Allah agar manusia menggunakan akal dan berpikir diulang-ulang dalam berbagai ayat dan surat dalam Al-Qur’an. Lalu, dengan cara apakah akal dan pikiran kita bisa berkembang? Terutama lewat belajar. Oleh karena itu, Rasulullah saw mewajibkan belajar kepada setiap kaum muslimin.
Hikmah diturunkannya ayat pertama tentang membaca (dalam al-Qur’an surat Al-‘alaq ayat 1-5) menunjukkan bahwa ajaran islam memang mendorong kegiatan belajar mengajar.
4.      Menjaga dan memelihara harta
Allah Swt telah menganugerahkan rizki yang luas dan harta yang banyak bagi umat manusia. Jika dikelola dengan benar dan adil, maka tidak akan ada seorang manusia pun di muka bumi ini yang menghadapi kelaparan.
Agama islam didatangkan dengan seperangkat ajaran yang lengkap dan sempurna tentang pengelolaan harta. Dalam islam, pemilik mutlak harta adalah Allah Swt. Oleh karena itulah harta harus diperoleh secara halal.
5.      Menjaga dan memelihara kehormatan
Tujuan didatangkannya agama islam yang kelima adalah menjaga serta memelihara kehormatan dan keturunan. Agama islam - sejalan dengan fitrah Allah- menghendaki agar setiap orang berkeluarga dengan jalan pernikahan. Oleh karena itulah ajaran islam menganjurkan menikah dan mengharamkan zina.

C.      Metode memahami islam
Metodologi apa yang tepat digunakan untuk memahami islam? Ulama dan cendekiawan muslim banyak yang mengajukan metodologi pemahaman islam. Namun bagi kita, apa dan bagaimana pun modelnya, mereka mengembangkan metodologi atas dasar pemahaman mereka tentang islam disertai dengan upaya untuk mengunggulkan islam di atas agama-agama lain. Yang tidak kalah pentingnya adalah metodologi pemahaman islam bagi kaum awam (bukan ulama dan pelajar ilmu agama). Adapun metodologi tersebut meliputi:
1.      Metode disiplin ilmu dan kajian isi
Para ulama berhasil menyederhanakan disiplin ilmu agama sehingga mudah dipahami orang awam sekalipun. Di Indonesia dikenal luas bahwa ajaran islam terdiri atas tiga disiplin ilmu, yaitu: aqidah, syari’ah, dan akhlaq. Metodologi yang digunakan biasanya bersifat doktrin.
2.      Metode kajian Al-Qur’an dan sejarah islam
Syari’ati menegaskan bahwa ada dua metode fundamental untuk memahami islam secara benar.Pertama, pengkajian “Al-Qur’an” yaitu pengkajian intisari gagasan-gagasan dan output  ilmu dari orang yang dikenal sebagai islam. Kedua, pengkajian “sejarah islam” yaitu pengkajian tentang perkembangan islam sejak masa Rasulullah menyampaikan misinya hingga sekarang.
Syari’ati sebagaimana yang diutarakan Hamid Algard dalam bukunya Sosiologi Islam lebih lanjut menandaskan:
Pemahaman dan pengetahuan tentang “Al-Qur’an” sebagai sumber dari segala ide-ide islam dan pengetahuan serta pemahaman “sejarah islam” sebagai sumber dari segala peristiwa yang pernah terjadi dalam masa yang berbeda adalah dua metode fundamental untuk mencapai suatu pengetahuan tentang islam yang benar dan ilmiah.
a .      Metode kajian teks secara integral
Al-Qur’an memiliki sistematika yang sangat berbeda dengan sistematika penulisan buku yang pernah dikembangkan oleh manusia. Al-Qur’an diturunkan berangsur-angsur selama 23 tahun. Selama itu Al-Qur’an diturunkan sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan yang berkembang. Tak jarang ayat Al-Qur’an turun merupakan respon terhadap pertanyaan atau kejadian yang muncul pada saat itu.
Pengkajian Al-Qur’an tidak boleh dilakukan secara parsial, yakni dipotong dari kelengkapan kalimat ayatnya atau dari keutuhan maksudnya yang terdapat pada ayat atau hadits lain. Jika suatu ayat atau hadits yang memiliki kaitan langsung dengan ayat atau hadits lain tergesa-gesa disimpulkan sebelum diintegrasikan, bisa jadi kesimpulan itu berbeda atau bahkan bertentangan dengan maksud yang sesungguhnya.
b.      Metode kajian fenomena alam
Di dalam Al-Qur’an banyak sekalia ayat yang langsung mengangkat fenomena alam yang sulit, bahkan tidak mungkin dipahami jika tidak dibantu dengan kajian kealaman. Karena itu Al-Qur’an dan alam sesungguhnya kedua-duanya adalah ayat Allah Swt yang menunjukkan serta membuktikan kebesaran dan keagungan Allah Swt.
3.      Metode Tipologi
Metode tipologi dikembangkan oleh Syari’ati untuk memahami tipe, profil, watak, dan misi agama islam. Metode ini memiliki dua ciri penting. Pertama, mengidentifikasi lima aspek agama.Kedua, membandingkan kelima aspek agama tersebut dengan aspek yang sama dalam agama lain. Dengan cara ini kita bisa melihat secara jernih betapa unggulnya agama islam mengatasi agama-agama lainnya. Kelima aspek atau ciri agama itu adalah:
1.      Tuhan atau tuhan-tuhan dari masing-masing agama, yaitu yang dijadikan objek penyembahan oleh para penganutnya.
2.      Rasul (nabi) dari masing-masing agama, yaitu orang yang memproklamasikan dirinya sebagai penyampai agama.
3.      Kitab suci dari masing-masing agama, yaitu dasar dan sumber hukum yang dinyatakan oleh agama itu.
4.      Situasi kemunculan nabi dari tiap-tiap agama dan kelompok manusia yang diserunya karena pesan dari tiap nabi berbeda-beda.
5.      Individu-individu pilihan yang dilahirkan setiap agama, yaitu figur-figur yang telah dididiknya dan kemudian dipersembahkan kepada masyarakat dan sejarah.

Langkah-langkah mengoperasionalkan metode tipologi adalah sebagai berikut:
1.      Menjelaskan tipe, konsep, keistimewaan, dan ciri-ciri Allah di dalam islam dengan mengacu kepada ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits nabi yang sangat terpercaya (mutawatir, shahih).
2.      Menelaah kitab suci.
3.      Menelaah kepribadian nabi dalam dimensi-dimensi kemanusiaan dan kenabiannya.
4.      Memeriksa situasi kedatangan Rasul. Kita harus menyelidiki bagaimana Rasul menghadapi masyarakatnya ketika beliau untuk pertama kali memproklamasikan misinya.
5.      Mengkaji kepribadian individu-individu pilihan yang dilahirkan setiap agama, yaitu figur-figur yang telah dididiknya dan kemudian dipersembahkan kepada masyarakat dan sejarah.
Menurut metode tipologi ini, untuk dapat mengetahui lebih luas tentang islam adalah dengan kita memahami Allah Swt, tema-tema tentang keesaan dan keadilan-Nya. Agar kita dapat mengenal dengan betul ciri-ciri Tuhan, kita harus kembali kepada Al-Qur’an dan hadits-hadits nabi yang sangat terpercaya. Termasuk juga keterangan dari para ulama yang telah membahas dengan teliti masalah ini, kemudian kita bandingkan konsepsi tentang Allah Swt dengan Tuhan agama-agama lain.



BAB 2
MANUSIA, AGAMA, DAN ISLAM
  A.    Manusia dan Agama
1 .      Beragama sebagai kebutuhan fitri
Manusia terdiri dari dimensi fisik dan non fisik yang bersifat potensial. Dimensi non fisik ini terdiri dari berbagai domain rohaniah yang saling berkaitan, yaitu jiwa (psyche), pikiran (ratio), dan rasa (sense). Yang di maksud dengan rasa di sini adalah kesadaran manusia akan kepatutan (sense of ethic), keindahan (sense of aesthetic), dan kebertuhanan (sense of theistic).
Rasa kebertuhanan (sense of theistic) adalah perasaan pada diri seseorang yang menimbulkan keyakinan akan adanya sesuatu yang maha kuasa di luar dirinya (transcendence) yang menentukan segala gerak kehidupan di ala mini.
Keyakinan akan adanya Tuhan dicapai oleh manusia melalui tiga pendekatan, yaitu:
a.       Material experience of humanity. Argumen membuktikan adanya Tuhan melalui kajian terhadap fenomena alam semesta.
b.      Inner experience of humanity. Argumen membuktikan adanya Tuhan melalui kesadaran batiniah dirinya.
c.       Spiritual experience of humanity. Argumen membuktikan Tuhan didasarkan pada wahyu yang diturunkan Tuhan melalui Rasul-Nya.
2 .      Pengertian dan Asal-usul Agama
Agama adalah suatu sistem ajaran tentang Tuhan, di mana penganut-penganutnya melakukan tindakan-tindakan ritual, moral, atau sosial atas dasar aturan-aturanNya. Oleh karena itu, umumnya suatu agama mencakup aspek-aspek sebagai berikut:
a.       Aspek kredial, yaitu ajaran tentang doktrin-doktrin ketuhanan yang harus diyakini
b.      Aspek ritual, yaitu ajaran tentang tata cara berhubungan dengan Tuhan untuk minta perlindungan dan pertolongan-Nya atau untuk menunjukkan kesetiaan dan penghambaan.
c.       Aspek moral, yaitu ajaran tentang aturan berperilaku dan bertindak yang benar dan baik bagi individu dalam kehidupan.
d.      Aspek sosial, yaitu ajaran tentang aturan hidup bermasyarakat.
Dalam keempat aspek ini, tiap-tiap agama memiliki penekanan yang berbeda. Melihat asal-usul terbentuk dan berkembangnya suatu agama sebagai sebuah lembaga kepercayaan dapat dikategorikan ke dalam tiga jenis, yaitu:
-    Agama yang muncul dan berkembang dari perkembangan budaya suatu masyarakat.
-    Agama yang disampaikan oleh orang-orang yang mengaku mendapat wahyu dari Tuhan.
-    Agama yang berkembang dari pemikiran seorang filosof besar.
3 -    Agama-agama Besar di Dunia
Di antara sekian banyak agama-agama yang ada di dunia, ada beberapa agama yang dianggap besar karena banyak penganutnya dan sistematis ajaran-ajarannya, yaitu agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Kong hu chu, Shinto, Yahudi, dan Zoroaster. Yang diantara agama-agama tersebut ada yang bersifat kebangsaan (nasional) dan ada yang bersifat mendunia (agama mondial) yang mengklaim untuk seluruh dunia

  B.     Agama Islam
1.      Islam, Agama fitrah dari Allah Swt
Sesuai dengan firman allah SWT dalam Q.S Ar-rum :30, yang berarti ‘maka hadapkanlah arah hidupmu secara lurus pada ajaran agama ini (islam) agama yang selaras dengan fitrah  manusia yang telah ditetapkan padanya sejak awal penciptaan’. Maka kita wajib untuk masuk agama islam, karena islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia bukan yang lainnya.
 Islam adalah suatu sistem ajaran ketuhanan yang berasal dari Allah Swt, diturunkan kepada umat manusia dengan wahyu melalui perantaraan nabi Muhammad saw. Dengan arahan ajaran islam, fitrah kemanusiaan akan membawa manusia kea rah kebaikan dan keselamatan baik bagi dirinya maupun bagi orang lain.
2.      Nama, Pengertian dan Misi Agama Islam
a.       Islam sebagai nama agama (ad-din)
Islam adalah nama yang ditetapkan Allah Swt secara eksplisit dalam Al-Qur’an untuk sistem ajaran ketuhanan yang disampaikan melalui Nabi Muhammad saw kepada umat manusia. Oleh sebab itu, islam sebagai suatu sistem ajaran tidak boleh disebut dengan sebutan lain. Orang yang menganut, memeluk dan mengikuti ajaran islam disebut muslim.
b.      Pengertian Islam
Secara etimologis, kata “islam” berasal dari tiga akar kata, yaitu:
-          Aslama artinya berserah diri atau tunduk patuh, yakni berserah diri atau tunduk patuh pada aturan-aturan hidup yang ditetapkan oleh Allah Swt suka ataupun tidak suka.
-          Salam artinya damai atau kedamaian, yakni menciptakan rasa damai dalam hidup (kedamaian jiwa atau ruh).
-          Salamah artinya keselamatan, yakni menempuh jalan yang selamat dengan mengamalkan aturan-aturan hidup yang ditetapkan oleh Allah Swt.
Adapun secara terminologis, “islam” adalah agama yang diturunkan dari Allah Swt kepada umat manusia melalui penutup para Nabi (Nabi Muhammad saw).
c.       Misi agama islam
-          Mengajak dan menyuruh manusia untuk tunduk patuh pada aturan-aturan Allah dalam menjalani kehidupannya di dunia.
-          Membimbing manusia untuk menemukan dan menciptakan kedamaian
-          Memberikan jaminan kepada manusia dalam mendapatkan keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat.
3.   Islam sebagai hidayah (petunjuk) dalam kehidupan
a.     Hidayah Allah untuk manusia 
Hidayah secara etimologis berarti “petunjuk”, dan secara terminologis berarti “petunjuk yang diberikan oleh Allah Swt kepada makhluk hidup agar mereka sanggup menghadapi tantangan kehidupan dan menemukan solusi (pemecahan) bagi persoalan hidup yang dihadapinya”.
Ada empat tingkatan hidayah, yaitu:
1.      Hidayah ghariziyyah (bersifat instinktif), yaitu petunjuk untuk kehidupan yang diberikan oleh Allah Swt bersamaan dengan kelahiran berupa kemampuan dalam menghadapi kehidupan, sehingga sanggup untuk bertahan hidup (fungsi survival).
2.      Hidayah hissiyyah (bersifat indrawi), yaitu petunjuk berupa kemampuan indera dalam menangkap citra lingkungan hidup, sehingga ia dapat menentukan lingkungan mana yang sesuai dengannya, sehingga menemukan kenyamanan dalam menjalani kehidupan secara fisikal (fungsi adaptif).
Kedua hidayah di atas diberikan juga kepada binatang dengan fungsi yang sama.
3.      Hidayah ‘aqliyyah (bersifat intelektual), yaitu petunjuk yang diberikan Allah Swt berupa kemampuan berpikir dan menalar, yaitu mengolah segala informasi yang ditangkap oleh indera.
4.      Hidayah diniyyah (berupa ajaran agama), yaitu petunjuk yang diberikan Allah Swt kepada manusia berupa ajaran-ajaran praktis untuk diterapkan dalam meniti kehidupan secara individual atau bersama orang lain.
Hidayah ketiga dan keempat ini hanya diberikan kepada manusia.
b.     Islam satu-satunya Hidayah Diniyyah
Dalam kedudukannya sebagai hidayah bagi kehidupan manusia di dunia, agama islam berperan sebagai:
1.      Pemberi makna bagi perbuatan manusia
2.      Alat kontrol bagi perasaan dan emosi
3.      Pengendali hawa nafsu
4.      Pemberi dorongan untuk berbuat baik
5.      Penyeimbang bagi kondisi psikis


BAB 3
KEIMANAN DAN KETAKWAAN
  A.    Keimanan
Berdasarkan Al-Qur’an surat al-anfal ayat 2,3,4 dan 74 serta surat al-baqarah ayat 62 dan 277, jelaslah bahwa orang yang beriman adalah orang yang memiliki keyakinan yang kokoh dan mendalam akan keMahaagungan dan keMahakuasaan Allah Swt sebagai pencipta, pengatur, serta pemberi rizki, yang menghidupkan dan mematikan, sehingga apabila disebut asma-Nya, bergetarlah hatinya kemudian apabila dibacakan ayat-ayatnya, bertambah yakinlah pada-Nya.
Yang dimaksud dengan iman dan orang yang beriman adalah orang yang memiliki keyakinan yang kokoh dan menjadi motivasi untuk melakukan perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya dalam kehidupan sehari-hari, baik yang berhubungan dengan Allah (hablumminallah) maupun yang berhubungan dengan sesama manusia (hablumminannas).
Menurut Sayyid Sabiq, pengertian keimanan atau aqidah itu tersusun dari enam perkara, yaitu:
-          Pertama, marifat kepada Allah Swt. Marifat kepada Allah Swt akan memancarkan berbagai perasaan yang baik dan dapat dibina di atasnya semangat untuk menuju ke arah perbaikan.
Atas dasar uraian tersebut, maka seorang mukmin akan selalu mentauhidkan Allah.    Secara garis besar, tauhid terbagi menjadi empat macam:
a)         Tauhid al-Rububiyah, secara teoretis berarti bahwa Allah adalah satu-satunya yang mencipta, memiliki, mengatur dan mengurus semesta alam.
b)         Tauhid al-Asma wa al-sifat, secara teoretis berarti meyakini bahwa hanya Allah yang memiliki nama dan sifat-sifat sempurna.
c)         Tauhid al-Ibadah, berarti menempatkan dan memperlakukan Allah sebagai satu-satunya yang disembah.
d)        Tauhid al-Isti’anah, berarti menempatkan dan memperlakukan Allah sebagai satu-satunya tempat berharap dan bergantung.
-          Kedua, marifat kepada malaikat Allah Swt. Hal ini dapat mengajak hati untuk mencontoh, meniru perilaku mereka yang serba baik dan terpuji.
-          Ketiga, marifat kepada kitab-kitab Allah Swt. Hal ini dijadikan pedoman untuk membedakan antara yang hak dan bathil, baik dan buruk, serta halal dan haram.
-          Keempat, marifat kepada rasul-rasul Allah Swt. Dengan marifat ini dimaksudkan agar setiap manusia mengikuti jejak langkah rasul dan meniru akhlaknya.
-          Kelima, marifat kepada hari akhir. Hal ini akan menjadi pembangkit yang terkuat untuk mengajak manusia berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan.
-          Keenam, marifat kepada takdir (qadla dan qadar). Hal ini akan memberikan kita bekal kekuatan dan kesanggupan untuk menghadapi segala cobaan.
Orang yang beriman dalam kehidupannya akan menampilkan perilaku sebagai berikut:
1.      Jihad, artinya berusaha dengan sungguh-sungguh untuk melaksanakan segala aturan Allah Swt.
2.   Menghukum atau menyelesaikan segala persoalan yang dihadapi dalam kehidupannya dengan menggunakan hukum Allah dan rasul-Nya.
3.      Ridho atas segala musibah yang menimpanya.
4.      Sangat cinta kepada Allah dan rasul-Nya.
5.      Mencintai sesama muslim.
6.      Rajin dan sungguh-sungguh dalam segala usahanya.
7.      Berbudi pekerti yang baik.
8.    Mencegah dan menghindarkan diri dari segala perbuatan yang buruk, baik pada dirinya, keluarga, dan masyarakat.
9.      Selalu membantu orang miskin dan anak yatim
Dampak keimanan seseorang dalam kehidupannya adalah:
Pertama, iman mengajarkan dan memberikan keyakinan kepada manusia bahwa Tuhan itu ada.
Kedua, iman mengajarkan dan meyakinkan kepada manusia bahwa:
-          Manusia adalah makhluk yang memiliki bentuk paling baik
-          Manusia adalah makhluk termulia
-          Manusia adalah makhluk terpercaya
-          Manusia adalah makhluk terpintar
-          Manusia adalah makhluk yang tersayang
Iman mengajarkan dan memberikan keyakinan kepada manusia bahwa dalam segala aktivitasnya, ia hanya merencanakan dan bekerja, namun berhasil atau tidaknya hanya Allah yang menentukan.
  B.     Ketakwaan
Ayat-ayat al-Qur’an dan hadits banyak menjelaskan tentang sifat orang-orang yang bertakwa. Sifat takwa dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kategori:
Pertama, iman kepada Allah Swt, malaikat-malaikat Allah, kitab-kitab Allah, rasul-rasul Allah.
Kedua, mengeluarkan harta yang disayanginya kepada orang yang benar-benar membutuhkan.
Ketiga, mendirikan shalat dan menunaikan zakat.
Keempat, menyempurnakan janjinya.
Kelima, bersabar pada saat mendapat musibah atau tantangan.
Kategori-kategori takwa yang diungkapkan di atas pada dasarnya dapat dibagi ke dalam dua perilaku, yaitu:
a.       Sikap konsisten memelihara hubungan secara vertikal dengan Allah Swt yang diwujudkan melalui itikad dan keyakinan yang lurus, ketulusan dalam menjalankan ibadah dan keputusan terhadap ketentuan dan aturan yang dibuat-Nya.
b.      Memelihara hubungan secara horizontal, yakni cinta dan kasih sayang kepada sesama umat manusia yang diwujudkan dalam segala tindakan kebajikan seperti berbakti kepada orang tua, menyayangi keluarga, tolong-menolong sesama teman. 
Pelaksanaan rukun islam secara keseluruhan atas dasar iman merupakan implementasi seorang muttakin, dan ketakwaan seseorang akan menentukan tinggi rendahnya seseorang di hadapan Allah Swt.