Makna, Tujuan, dan
Metodologi Islam
Berhubung ada yang
meminta pengertian berhubungan dengan Islam, saya rangkum dari buku sebagai
berikut :
BAB 1
MAKNA, TUJUAN, DAN METODOLOGI MEMAHAMI ISLAM
A. Makna Islam
Secara etimologis, kata “islam” berasal dari
tiga akar kata, yaitu:
- Aslama artinya berserah diri atau tunduk patuh, yakni
berserah diri atau tunduk patuh pada aturan-aturan hidup yang ditetapkan oleh
Allah Swt.
- Salam artinya damai atau kedamaian, yakni
menciptakan rasa damai dalam hidup (kedamaian jiwa atau ruh).
- Salamah artinya keselamatan, yakni menempuh jalan yang
selamat dengan mengamalkan aturan-aturan hidup yang ditetapkan oleh Allah Swt.
Adapun secara terminologis, Islam adalah agama
yang diturunkan dari Allah Swt kepada umat manusia melalui penutup para Nabi
(Nabi Muhammad saw).
Untuk lebih memahami makna islam, perlu
dipahami pula makna taslim. Taslim (berserah diri) ada tiga tingkatan, yaitu:
- Taslim fisik adalah menyerah secara fisik
karena dikalahkan oleh lawan yang memiliki fisik lebih kuat.
- Taslim akal adalah menyerah karena kelemahan
dalil, logika, dan argumentasi.
- Taslim hati, biasanya disebabkan oleh
fanatisme, jaga gengsi, takut kehilangan pengikut, atau memang hatinya kufur
walaupun akalnya sudah taslim.
B. Tujuan Syari’ah Islam
Para ulama sepakat bahwa tujuan didatangkannya
syari’ah islam adalah untuk menjaga kelima hal berikut, yaitu:
1. Menjaga dan memelihara agama, hal ini
didasarkan oleh:
- Perlunya
melahirkan ulama.
Para Nabi boleh wafat, tapi ajaran islam tidak boleh mati.
Pemandu islam harus selalu hadir di tengah-tengah masyarakat. Para ulama itulah
yang menjadi pemuka dan pemandu islam di tengah-tengah masyarakat sepanjang
jaman. Implikasinya adalah kita wajib menyelenggarakan pendidikan bagi para
calon ulama.
- Membudayakan
gerakan belajar agama
Di tingkat lokal dan institusional kita perlu membudayakan
belajar agama sepanjang hayat. Kita wajib menyelenggarakan pengajaran agama
dimana-mana, di rumah, di mesjid, di kantor, di kampus, dan lain-lain.
- Perlunya
menguasai ilmu-ilmu dasar islam
Para ahli dan praktisi pendidikan islam telah mengembangkan
studi paket ilmu-ilmu dasar keislaman. Dengan berbekal ilmu tersebut,
diharapkan nantinya kita dapat mengembangkan sendiri ilmu-ilmu tersebut.
- Ilmu
yang fardhu ‘ain
Termasuk ke dalam ilmu ini adalah pengetahuan mengenai tauhid
yang benar, zat dan sifat-sifat Allah, cara beribadah yang benar, dan segala
sesuatu yang berhubungan dengan halal dan haram.
- Melaksanakan
kewajiban agama
Mari kita dengar sabda Nabi saw. Kata beliau, yang membedakan
antara orang islam dan bukan adalah tarkush-shalat (meninggalkan
shalat). Dalam hadits yang lain disebutkan ash-shalatu ‘imaduddin (shalat
itu adalah tiang agama). Dalam hadits lainnya juga disebutkan bahwa amal-amal
manusia dihitung setelah terlebih dahulu diperiksa shalatnya. Jadi, ciri
pertama dan utama orang islam adalah mendirikan shalat. Orang yang mendirikan
shalat sudah pasti berpuasa di bulan ramadhan; jika punya kelebihan harta sudah
pasti mengeluarkan zakat, infaq, shadaqah; dan jika punya bekal yang cukup
sudah pasti menunaikan haji dan umrah. Orang yang mendirikan shalat akan
melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
2. Menjaga dan memelihara jiwa
Anugerah Allah yang paling besar bagi manusia adalah hidup. Oleh
karena itu setiap usaha memelihara jiwa manusia sangat dihargai oleh islam.
Sebaliknya, segala usaha apapun yang merusak jiwa manusia dikutuk oleh islam.
Orang yang menyelamatkan seorang nyawa manusia oleh Allah dipandang sama dengan
menyelamatkan seluruh nyawa manusia, sedangkan orang yang membunuh seorang
manusia dipandang sama dengan membunuh seluruh manusia.
3. Menjaga dan memelihara akal
Seruan Allah agar manusia menggunakan akal dan berpikir
diulang-ulang dalam berbagai ayat dan surat dalam Al-Qur’an. Lalu, dengan cara
apakah akal dan pikiran kita bisa berkembang? Terutama lewat belajar. Oleh
karena itu, Rasulullah saw mewajibkan belajar kepada setiap kaum muslimin.
Hikmah diturunkannya ayat pertama tentang membaca (dalam
al-Qur’an surat Al-‘alaq ayat 1-5) menunjukkan bahwa ajaran islam memang
mendorong kegiatan belajar mengajar.
4. Menjaga dan memelihara harta
Allah Swt telah menganugerahkan rizki yang luas dan harta yang
banyak bagi umat manusia. Jika dikelola dengan benar dan adil, maka tidak akan
ada seorang manusia pun di muka bumi ini yang menghadapi kelaparan.
Agama islam didatangkan dengan seperangkat ajaran yang lengkap
dan sempurna tentang pengelolaan harta. Dalam islam, pemilik mutlak harta
adalah Allah Swt. Oleh karena itulah harta harus diperoleh secara halal.
5. Menjaga dan memelihara kehormatan
Tujuan didatangkannya agama islam yang kelima adalah menjaga
serta memelihara kehormatan dan keturunan. Agama islam - sejalan dengan fitrah
Allah- menghendaki agar setiap orang berkeluarga dengan jalan pernikahan. Oleh
karena itulah ajaran islam menganjurkan menikah dan mengharamkan zina.
C. Metode memahami islam
Metodologi apa yang tepat digunakan untuk
memahami islam? Ulama dan cendekiawan muslim banyak yang mengajukan metodologi
pemahaman islam. Namun bagi kita, apa dan bagaimana pun modelnya, mereka
mengembangkan metodologi atas dasar pemahaman mereka tentang islam disertai
dengan upaya untuk mengunggulkan islam di atas agama-agama lain. Yang tidak
kalah pentingnya adalah metodologi pemahaman islam bagi kaum awam (bukan ulama
dan pelajar ilmu agama). Adapun metodologi tersebut meliputi:
1. Metode disiplin ilmu dan kajian isi
Para ulama berhasil menyederhanakan disiplin ilmu agama sehingga
mudah dipahami orang awam sekalipun. Di Indonesia dikenal luas bahwa ajaran
islam terdiri atas tiga disiplin ilmu, yaitu: aqidah, syari’ah, dan akhlaq.
Metodologi yang digunakan biasanya bersifat doktrin.
2. Metode kajian Al-Qur’an dan sejarah islam
Syari’ati menegaskan bahwa ada dua metode fundamental untuk
memahami islam secara benar.Pertama, pengkajian “Al-Qur’an” yaitu
pengkajian intisari gagasan-gagasan dan output ilmu dari
orang yang dikenal sebagai islam. Kedua, pengkajian “sejarah islam”
yaitu pengkajian tentang perkembangan islam sejak masa Rasulullah menyampaikan misinya
hingga sekarang.
Syari’ati sebagaimana yang diutarakan Hamid
Algard dalam bukunya Sosiologi Islam lebih lanjut menandaskan:
Pemahaman dan pengetahuan tentang “Al-Qur’an”
sebagai sumber dari segala ide-ide islam dan pengetahuan serta pemahaman “sejarah
islam” sebagai sumber dari segala peristiwa yang pernah terjadi dalam masa yang
berbeda adalah dua metode fundamental untuk mencapai suatu pengetahuan tentang
islam yang benar dan ilmiah.
a . Metode kajian teks secara integral
Al-Qur’an memiliki sistematika yang sangat berbeda dengan
sistematika penulisan buku yang pernah dikembangkan oleh manusia. Al-Qur’an
diturunkan berangsur-angsur selama 23 tahun. Selama itu Al-Qur’an diturunkan
sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan yang berkembang. Tak jarang ayat
Al-Qur’an turun merupakan respon terhadap pertanyaan atau kejadian yang muncul
pada saat itu.
Pengkajian Al-Qur’an tidak boleh dilakukan secara parsial, yakni
dipotong dari kelengkapan kalimat ayatnya atau dari keutuhan maksudnya yang
terdapat pada ayat atau hadits lain. Jika suatu ayat atau hadits yang memiliki
kaitan langsung dengan ayat atau hadits lain tergesa-gesa disimpulkan sebelum
diintegrasikan, bisa jadi kesimpulan itu berbeda atau bahkan bertentangan
dengan maksud yang sesungguhnya.
b. Metode kajian fenomena alam
Di dalam Al-Qur’an banyak sekalia ayat yang langsung mengangkat
fenomena alam yang sulit, bahkan tidak mungkin dipahami jika tidak dibantu
dengan kajian kealaman. Karena itu Al-Qur’an dan alam sesungguhnya kedua-duanya
adalah ayat Allah Swt yang menunjukkan serta membuktikan kebesaran dan
keagungan Allah Swt.
3. Metode Tipologi
Metode tipologi dikembangkan oleh Syari’ati
untuk memahami tipe, profil, watak, dan misi agama islam. Metode ini memiliki
dua ciri penting. Pertama, mengidentifikasi lima aspek agama.Kedua, membandingkan
kelima aspek agama tersebut dengan aspek yang sama dalam agama lain. Dengan
cara ini kita bisa melihat secara jernih betapa unggulnya agama islam mengatasi
agama-agama lainnya. Kelima aspek atau ciri agama itu adalah:
1. Tuhan atau tuhan-tuhan dari masing-masing
agama, yaitu yang dijadikan objek penyembahan oleh para penganutnya.
2. Rasul (nabi) dari masing-masing agama, yaitu
orang yang memproklamasikan dirinya sebagai penyampai agama.
3. Kitab suci dari masing-masing agama, yaitu
dasar dan sumber hukum yang dinyatakan oleh agama itu.
4. Situasi kemunculan nabi dari tiap-tiap agama
dan kelompok manusia yang diserunya karena pesan dari tiap nabi berbeda-beda.
5. Individu-individu pilihan yang dilahirkan
setiap agama, yaitu figur-figur yang telah dididiknya dan kemudian
dipersembahkan kepada masyarakat dan sejarah.
Langkah-langkah mengoperasionalkan metode
tipologi adalah sebagai berikut:
1. Menjelaskan tipe, konsep, keistimewaan, dan
ciri-ciri Allah di dalam islam dengan mengacu kepada ayat-ayat Al-Qur’an dan
hadits-hadits nabi yang sangat terpercaya (mutawatir, shahih).
2. Menelaah kitab suci.
3. Menelaah kepribadian nabi dalam dimensi-dimensi
kemanusiaan dan kenabiannya.
4. Memeriksa situasi kedatangan Rasul. Kita harus
menyelidiki bagaimana Rasul menghadapi masyarakatnya ketika beliau untuk
pertama kali memproklamasikan misinya.
5. Mengkaji kepribadian individu-individu pilihan
yang dilahirkan setiap agama, yaitu figur-figur yang telah dididiknya dan
kemudian dipersembahkan kepada masyarakat dan sejarah.
Menurut metode tipologi ini, untuk dapat
mengetahui lebih luas tentang islam adalah dengan kita memahami Allah Swt, tema-tema
tentang keesaan dan keadilan-Nya. Agar kita dapat mengenal dengan betul
ciri-ciri Tuhan, kita harus kembali kepada Al-Qur’an dan hadits-hadits nabi
yang sangat terpercaya. Termasuk juga keterangan dari para ulama yang telah
membahas dengan teliti masalah ini, kemudian kita bandingkan konsepsi tentang
Allah Swt dengan Tuhan agama-agama lain.
BAB 2
MANUSIA, AGAMA, DAN ISLAM
A. Manusia dan Agama
1 . Beragama sebagai kebutuhan fitri
Manusia terdiri dari dimensi fisik dan non
fisik yang bersifat potensial. Dimensi non fisik ini terdiri dari berbagai
domain rohaniah yang saling berkaitan, yaitu jiwa (psyche), pikiran (ratio),
dan rasa (sense). Yang di maksud dengan rasa di sini adalah kesadaran
manusia akan kepatutan (sense of ethic), keindahan (sense of
aesthetic), dan kebertuhanan (sense of theistic).
Rasa kebertuhanan (sense of theistic) adalah
perasaan pada diri seseorang yang menimbulkan keyakinan akan adanya sesuatu
yang maha kuasa di luar dirinya (transcendence) yang menentukan segala gerak
kehidupan di ala mini.
Keyakinan akan adanya Tuhan dicapai oleh
manusia melalui tiga pendekatan, yaitu:
a. Material experience of humanity. Argumen membuktikan adanya Tuhan melalui
kajian terhadap fenomena alam semesta.
b. Inner experience of humanity. Argumen membuktikan adanya Tuhan melalui
kesadaran batiniah dirinya.
c. Spiritual experience of humanity. Argumen membuktikan Tuhan didasarkan pada
wahyu yang diturunkan Tuhan melalui Rasul-Nya.
2 . Pengertian dan Asal-usul Agama
Agama adalah suatu sistem ajaran tentang
Tuhan, di mana penganut-penganutnya melakukan tindakan-tindakan ritual, moral,
atau sosial atas dasar aturan-aturanNya. Oleh karena itu, umumnya suatu agama
mencakup aspek-aspek sebagai berikut:
a. Aspek kredial, yaitu ajaran tentang
doktrin-doktrin ketuhanan yang harus diyakini
b. Aspek ritual, yaitu ajaran tentang tata cara
berhubungan dengan Tuhan untuk minta perlindungan dan pertolongan-Nya atau
untuk menunjukkan kesetiaan dan penghambaan.
c. Aspek moral, yaitu ajaran tentang aturan
berperilaku dan bertindak yang benar dan baik bagi individu dalam kehidupan.
d. Aspek sosial, yaitu ajaran tentang aturan
hidup bermasyarakat.
Dalam keempat aspek ini, tiap-tiap agama
memiliki penekanan yang berbeda. Melihat asal-usul terbentuk dan berkembangnya
suatu agama sebagai sebuah lembaga kepercayaan dapat dikategorikan ke dalam
tiga jenis, yaitu:
- Agama yang muncul dan berkembang dari perkembangan budaya suatu
masyarakat.
- Agama yang disampaikan oleh orang-orang yang mengaku mendapat
wahyu dari Tuhan.
- Agama yang berkembang dari pemikiran seorang filosof besar.
3 - Agama-agama Besar di Dunia
Di antara sekian banyak agama-agama yang ada di dunia, ada
beberapa agama yang dianggap besar karena banyak penganutnya dan sistematis
ajaran-ajarannya, yaitu agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Kong hu
chu, Shinto, Yahudi, dan Zoroaster. Yang diantara agama-agama tersebut ada yang
bersifat kebangsaan (nasional) dan ada yang bersifat mendunia (agama mondial)
yang mengklaim untuk seluruh dunia
B. Agama Islam
1. Islam, Agama fitrah dari Allah Swt
Sesuai dengan firman allah SWT dalam Q.S
Ar-rum :30, yang berarti ‘maka hadapkanlah arah hidupmu secara lurus pada
ajaran agama ini (islam) agama yang selaras dengan fitrah manusia yang
telah ditetapkan padanya sejak awal penciptaan’. Maka kita wajib untuk masuk
agama islam, karena islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia bukan
yang lainnya.
Islam adalah suatu sistem ajaran
ketuhanan yang berasal dari Allah Swt, diturunkan kepada umat manusia dengan
wahyu melalui perantaraan nabi Muhammad saw. Dengan arahan ajaran islam, fitrah
kemanusiaan akan membawa manusia kea rah kebaikan dan keselamatan baik bagi
dirinya maupun bagi orang lain.
2. Nama, Pengertian dan Misi Agama Islam
a. Islam sebagai nama agama (ad-din)
Islam adalah nama yang ditetapkan Allah Swt
secara eksplisit dalam Al-Qur’an untuk sistem ajaran ketuhanan yang disampaikan
melalui Nabi Muhammad saw kepada umat manusia. Oleh sebab itu, islam sebagai
suatu sistem ajaran tidak boleh disebut dengan sebutan lain. Orang yang
menganut, memeluk dan mengikuti ajaran islam disebut muslim.
b. Pengertian Islam
Secara etimologis, kata “islam” berasal dari
tiga akar kata, yaitu:
- Aslama artinya berserah diri atau tunduk patuh, yakni
berserah diri atau tunduk patuh pada aturan-aturan hidup yang ditetapkan oleh
Allah Swt suka ataupun tidak suka.
- Salam artinya damai atau kedamaian, yakni
menciptakan rasa damai dalam hidup (kedamaian jiwa atau ruh).
- Salamah artinya keselamatan, yakni menempuh jalan yang
selamat dengan mengamalkan aturan-aturan hidup yang ditetapkan oleh Allah Swt.
Adapun secara terminologis, “islam” adalah
agama yang diturunkan dari Allah Swt kepada umat manusia melalui penutup para
Nabi (Nabi Muhammad saw).
c. Misi agama islam
- Mengajak dan menyuruh manusia untuk tunduk patuh
pada aturan-aturan Allah dalam menjalani kehidupannya di dunia.
- Membimbing manusia untuk menemukan dan
menciptakan kedamaian
- Memberikan jaminan kepada manusia dalam
mendapatkan keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat.
3. Islam sebagai
hidayah (petunjuk) dalam kehidupan
a. Hidayah Allah untuk manusia
Hidayah secara etimologis berarti “petunjuk”, dan secara
terminologis berarti “petunjuk yang diberikan oleh Allah Swt kepada makhluk
hidup agar mereka sanggup menghadapi tantangan kehidupan dan menemukan solusi
(pemecahan) bagi persoalan hidup yang dihadapinya”.
Ada empat tingkatan hidayah, yaitu:
1. Hidayah ghariziyyah (bersifat
instinktif), yaitu petunjuk untuk kehidupan yang diberikan oleh Allah Swt
bersamaan dengan kelahiran berupa kemampuan dalam menghadapi kehidupan,
sehingga sanggup untuk bertahan hidup (fungsi survival).
2. Hidayah hissiyyah (bersifat
indrawi), yaitu petunjuk berupa kemampuan indera dalam menangkap citra
lingkungan hidup, sehingga ia dapat menentukan lingkungan mana yang sesuai
dengannya, sehingga menemukan kenyamanan dalam menjalani kehidupan secara
fisikal (fungsi adaptif).
Kedua hidayah di atas diberikan juga kepada binatang dengan
fungsi yang sama.
3. Hidayah ‘aqliyyah (bersifat intelektual),
yaitu petunjuk yang diberikan Allah Swt berupa kemampuan berpikir dan menalar,
yaitu mengolah segala informasi yang ditangkap oleh indera.
4. Hidayah diniyyah (berupa
ajaran agama), yaitu petunjuk yang diberikan Allah Swt kepada manusia berupa
ajaran-ajaran praktis untuk diterapkan dalam meniti kehidupan secara individual
atau bersama orang lain.
Hidayah ketiga dan keempat ini hanya diberikan kepada manusia.
b.
Islam satu-satunya Hidayah Diniyyah
Dalam kedudukannya sebagai hidayah bagi kehidupan manusia di
dunia, agama islam berperan sebagai:
1. Pemberi makna bagi perbuatan manusia
2. Alat kontrol bagi perasaan dan emosi
3. Pengendali hawa nafsu
4. Pemberi dorongan untuk berbuat baik
5. Penyeimbang bagi kondisi psikis
BAB 3
KEIMANAN DAN KETAKWAAN
A. Keimanan
Berdasarkan Al-Qur’an surat al-anfal ayat
2,3,4 dan 74 serta surat al-baqarah ayat 62 dan 277, jelaslah bahwa orang yang
beriman adalah orang yang memiliki keyakinan yang kokoh dan mendalam akan
keMahaagungan dan keMahakuasaan Allah Swt sebagai pencipta, pengatur, serta
pemberi rizki, yang menghidupkan dan mematikan, sehingga apabila disebut
asma-Nya, bergetarlah hatinya kemudian apabila dibacakan ayat-ayatnya,
bertambah yakinlah pada-Nya.
Yang dimaksud dengan iman dan orang yang
beriman adalah orang yang memiliki keyakinan yang kokoh dan menjadi motivasi
untuk melakukan perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya dalam kehidupan
sehari-hari, baik yang berhubungan dengan Allah (hablumminallah) maupun yang berhubungan
dengan sesama manusia (hablumminannas).
Menurut Sayyid Sabiq, pengertian keimanan atau
aqidah itu tersusun dari enam perkara, yaitu:
- Pertama, marifat kepada Allah Swt. Marifat kepada Allah
Swt akan memancarkan berbagai perasaan yang baik dan dapat dibina di atasnya
semangat untuk menuju ke arah perbaikan.
Atas dasar uraian tersebut, maka seorang mukmin akan selalu
mentauhidkan Allah. Secara garis besar, tauhid terbagi
menjadi empat macam:
a) Tauhid al-Rububiyah, secara teoretis berarti
bahwa Allah adalah satu-satunya yang mencipta, memiliki, mengatur dan mengurus
semesta alam.
b) Tauhid al-Asma wa al-sifat, secara teoretis
berarti meyakini bahwa hanya Allah yang memiliki nama dan sifat-sifat sempurna.
c) Tauhid al-Ibadah, berarti menempatkan dan
memperlakukan Allah sebagai satu-satunya yang disembah.
d) Tauhid al-Isti’anah, berarti menempatkan dan
memperlakukan Allah sebagai satu-satunya tempat berharap dan bergantung.
- Kedua, marifat kepada malaikat Allah Swt. Hal ini dapat mengajak hati
untuk mencontoh, meniru perilaku mereka yang serba baik dan terpuji.
- Ketiga, marifat kepada kitab-kitab Allah Swt. Hal ini
dijadikan pedoman untuk membedakan antara yang hak dan bathil, baik dan buruk,
serta halal dan haram.
- Keempat, marifat kepada rasul-rasul Allah Swt. Dengan
marifat ini dimaksudkan agar setiap manusia mengikuti jejak langkah rasul dan
meniru akhlaknya.
- Kelima, marifat kepada hari akhir. Hal ini akan
menjadi pembangkit yang terkuat untuk mengajak manusia berbuat kebaikan dan
meninggalkan keburukan.
- Keenam, marifat kepada takdir (qadla dan qadar). Hal
ini akan memberikan kita bekal kekuatan dan kesanggupan untuk menghadapi segala
cobaan.
Orang yang beriman dalam kehidupannya akan
menampilkan perilaku sebagai berikut:
1. Jihad, artinya berusaha dengan sungguh-sungguh
untuk melaksanakan segala aturan Allah Swt.
2. Menghukum
atau menyelesaikan segala persoalan yang dihadapi dalam kehidupannya dengan
menggunakan hukum Allah dan rasul-Nya.
3. Ridho atas segala musibah yang menimpanya.
4. Sangat cinta kepada Allah dan rasul-Nya.
5. Mencintai sesama muslim.
6. Rajin dan sungguh-sungguh dalam segala
usahanya.
7. Berbudi pekerti yang baik.
8. Mencegah dan menghindarkan diri dari segala perbuatan yang
buruk, baik pada dirinya, keluarga, dan masyarakat.
9. Selalu membantu orang miskin dan anak yatim
Dampak keimanan seseorang dalam kehidupannya
adalah:
Pertama, iman mengajarkan dan memberikan keyakinan kepada manusia bahwa
Tuhan itu ada.
Kedua, iman
mengajarkan dan meyakinkan kepada manusia bahwa:
- Manusia adalah makhluk yang memiliki bentuk
paling baik
- Manusia adalah makhluk termulia
- Manusia adalah makhluk terpercaya
- Manusia adalah makhluk terpintar
- Manusia adalah makhluk yang tersayang
Iman mengajarkan dan memberikan keyakinan
kepada manusia bahwa dalam segala aktivitasnya, ia hanya merencanakan dan
bekerja, namun berhasil atau tidaknya hanya Allah yang menentukan.
B. Ketakwaan
Ayat-ayat al-Qur’an dan hadits banyak
menjelaskan tentang sifat orang-orang yang bertakwa. Sifat takwa dapat
dikelompokkan ke dalam beberapa kategori:
Pertama, iman kepada Allah Swt, malaikat-malaikat Allah, kitab-kitab
Allah, rasul-rasul Allah.
Kedua, mengeluarkan
harta yang disayanginya kepada orang yang benar-benar membutuhkan.
Ketiga, mendirikan shalat dan menunaikan zakat.
Keempat, menyempurnakan janjinya.
Kelima, bersabar pada saat mendapat musibah atau tantangan.
Kategori-kategori takwa yang diungkapkan di
atas pada dasarnya dapat dibagi ke dalam dua perilaku, yaitu:
a. Sikap konsisten memelihara hubungan secara
vertikal dengan Allah Swt yang diwujudkan melalui itikad dan keyakinan yang
lurus, ketulusan dalam menjalankan ibadah dan keputusan terhadap ketentuan dan
aturan yang dibuat-Nya.
b. Memelihara hubungan secara horizontal, yakni
cinta dan kasih sayang kepada sesama umat manusia yang diwujudkan dalam segala
tindakan kebajikan seperti berbakti kepada orang tua, menyayangi keluarga,
tolong-menolong sesama teman.
Pelaksanaan rukun islam secara keseluruhan
atas dasar iman merupakan implementasi seorang muttakin, dan ketakwaan
seseorang akan menentukan tinggi rendahnya seseorang di hadapan Allah Swt.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar