Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 September 2017

Makna Hijrah Dan Aplikasinya terhadap Umat Muslim


الذين ءامنوا وهاجروا وجاهدوا في سبيل الله بأموالهم وأنفسهم أعظم درجة عند الله , وأولئك هم الفائزون
“ Orang-orang yang beriman, berhijrah dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah ; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan” [QS. At-Taubah : 20].

Muqaddimah
Dalam Al qur’an tidak kurang dari 31 kata yang berasal  dari kata Hajara atau Hijrah. Dari jumlah itu tidak kurang dari 6 ayat yang menyebutkan  kata Hajaruu (orang-orang yang berhijrah) bergandengan dengan kata Aamanuu (orang-orang yang beriman) dan  Jahaduu (orang-orang yang berjihad). Ayat yang dikutip diatas adalah salah satunya. Belum lagi kata Hajaruu diiringi dengan kata Fillah (karena Allah) atau Fi Sabiilillah (di jalan Allah). Ini berarti betapa erat kaitan hijrah dengan iman. Hijrah sama sekali berbeda dengan Migrasi, hijrah adalah terminologi khas Islam yang landasanya iman kepada Allah. Jadi hijrah menjadi tolok ukur keimanan seseorang. Orang yang benar-benar beriman tentu tidak akan merasa berat  melakukan hijrah. Sebaliknya, orang yang tidak melakukan hijrah menunjukan lemah atau tidak sempurna imannya. Yang menjadi persoalan sekarang adalah apa hakikat hijrah yang menjadi  tolok ukur keimanan tersebut ?? dan bagaimana mengaplikasikannya dalam kehidupan kita sebagai seorang Muslim ?

Hijrah Makaniyah
Secara bahasa hijrah berarti At-Tarku yang artinya meninggalkan, baik meninggalkan tempat maupun meninggalkan sesuatu yang tidak baik. Dalam syari’at islam hijrah diartikan meninggalkan negeri kafir menuju negeri Islam karena takut fitnah. Fitnah disini maksudnya adalah bahaya yang dapat mengancam fisik dan keimanan seorang muslim, baik secara pribadi maupun secara kelompok. Dalam siroh Nabi atau sejarah kehidupan Rasulullah, kita kenal ada dua macam hijrah ; Pertama, hijrah ke Habasyah dan kedua hijrah ke Madinah. Hijrah ke Habasyah bertujuan sebagai perlindungan, artinya orang-orang yang melakukan Hijrah pada umumnya orang-orang yang lemah yang patut mendapatkan perlindungan, sementara orang-orang kuat justru dilarang ikut berhijrah. Oleh sebab itu, hijrah ini bersifat sementara. Sedangkan hijrah ke Madinah bertujuan untuk melakukan mobilisasi umat dalam rangka meletakkan basis kekuatan dan menegakkan daulah. Berbeda dengan hijrah ke Habasyah yang pada umumnya dilakukan oleh orang-orang lemah, hijrah ke Madinah ini justru dilakukan oleh orang-orang kuat. Oleh sebab itu, hijrah ke Madinah merupakan suatu keharusan bagi setiap mukmin. Hanya orang lemah, anak-anak, wanita dan orang-orang tua diizinkan  untuk tidak berhijrah, sebagaimana firman Allah [QS.An-Nisa’ : 97-98]. Baik Hijrah ke Habasyah maupun hijrah ke Madinah dalam terminologi Islam disebut hijrah makaniyah (hijrah tempat).
Dalam aplikasinya sekarang hijrah makaniyah ini tidaklah mutlak harus dilakukan , karena hijrah makaniyah dalam bentuk pertama bisa dilakukan manakala negeri yang kita diami sudah sangat tidak aman sekali yang dapat mengancam keselamatan jiwa setiap mukmin, sehingga jangankan melaksanakan ibadah kepada Allah secara maksimal, secara minimal pun sulit dilaksanakan. Disamping itu harus ada negeri yang bisa memberi jaminan keamanan. Sedangkan Hijrah makaniyah dalam bentuk kedua sebagaimana telah dijelaskan , tujuannya adalah untuk meletakkan basis kekuatan Islam. Kalau tujuan ini dapat dicapai tanpa hijrah. Maka tidak diperlukan lagi hijrah. Bukankah Rasulullah sebelum hijrah ke Madinah terlebih dahulu mencari tempat-tempat yang bisa dijadikan basis kekuatan sehingga Islam bisa ditegakkan, mulai dari Mekkah itu sendiri, Thaif dan suku-suku sekitar mekkah ? bahakan hijrahnya sebagian sahabat ke Habasyah pun menurut sebagian ulama tidak terlepas dari tujuan ini, bukan semata-mata sebagai perlindungan. Kemudian pada akhirnya Rasulullah mendapatkan Yatsrib (yang kemudian dinamakan Madinah) dipandang lain untuk dijadikan basis kekuatan dan tegaknya agama islam setelah sejumlah penduduknya meyatakan masuk islam serta siap membela islam dan Rasulullah,baru Beliau dan para Sahabatnya  berhijrah. Jadi yang dituntut terhadap umat Islam sekarang ini adalah menyiapkan terwujudnya basis kekuatan Islam, baik di Negeri sendiri ataupun di negeri orang lain. Inilah sebetulnya substansi sekaligus aplikasi hijrah makaniyah yang merupakan tuntutan Iman. Dengan demikian umat islam bisa keluar secara total dari dominasi pengabdian terhadap manusia menuju pengabdian hanya kepada Allah dengan mengaplikasikan sistem Islam  dalam semua aspek kehidupan. Atau dengan kata lain terbebas dari ‘Ubudiyah (pengabdian atau penghambaan) terhadap syaitan menuju pengabdian atau penghambaan hanya kepada Allah. Syaitan bisa berbentuk Jin dan bisa berbentuk manusia dengan segala manifestasinya. Firman Allah : “Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu Hai Bani Adam supaya kamu tidak mengabdi kepada syaitan ? sesungguhnya syaitan itu musuh nyata bagimu. Dan hendaklah kamu mengabdi kepada-Ku. Inilah jalan yang lurus”. [QS. Yaasin : 60-61].
Firman Allah yang lain : “Katakanlah hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa kita tidak mengabdi kecuali kepada Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun  dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” [QS. Ali Imran : 64].

Hijrah Maknawiyah
Selain pengertian diatas, dalam terminology Islam, Hijrah juga mempunyai  arti meninggalkan segala bentuk yang dilarang Allah. Dalam hal ini Rasulullah bersabda : “Orang yang berhijrah itu adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang Allah”. [HR. Bukhari dan Muslim].
Meninggalkan segala bentuk yang dilarang Allah kalau dijabarkan ,bisa berarti perpindahan seorang muslim dari kufur kepada iman, dari syirik kepada Tauhid, dari Nifaq kepada Istiqomah, dari maksiat kepada taat, dari haram kepada halal. Atau dengan singkat perpindahan total seorang muslim dari kehidupan yang serba jahili menuju kehidupan yang serba Islami. Hijrah dalam pengertian ini disebut Hijrah maknawiyah (hijrah mental) atau bisa juga disebut Hijrah Qalbiyah (hijrah hati). Hijrah maknawiyah bersifat mutlak, dan kemutlakan berlaku bagi setiap muslim. Artinya setiap muslim mesti melakukan hijrah maknawiyah ini. Karena menjadi pribadi muslim yang kaffah atau seorang yang hanya mengabdi kepada Allah secara totalitas harus didahului dengan hijrah ini. Hijrah ini mulai awal terangkatnya kehidupan manusia dari kegelapan menuju cahaya islam, terbebaskannya manusia dengan melakukan hijrah maknawiyah, tuntutan Allah kepada Umat Islam agar bisa keluar secara total dari dominasi pengabdian terhadap syaitan dengan segala bentuk dan manifestasinya menuju pengabdian hanya kepada Allah seperti di jelaskan diatas, akan segala terpenuhi. Dalam kondisi sekarang ini, dimana kita hidup dilingkungan  masyarakat yang pola kehidupannya banyak yang jauh dari nilai-nilai Islam, hijrah maknawiyah merupakan suatu keharusan. Dengan demikian walaupun secara fisik seorang tetap berada dilingkungannya, namun secara maknawi dia meninggalkan seluruh pola kehidupan lingkungannya.
Pengertian ini yang dikenal dengan istilah“Yakhtalithuun walaakin yatamayyazuun”(bercampur tapi tetap berbeda), ia tetap dalam kepribadian muslimnya, tanpa harus larut dalam nilai-nilai sekelilingnya. Inilah yang dipesankan Rasulullah :“Janganlah kamu menjadi orang yang mengekor (selalu mengikuti orang lain). Kamu mengatakan : Jika mereka berbuat baik, kami pun berbuat baik ; dan jika mereka berbuat dzalim, kami pun berbuat dzalim. Tapi perkokohlah dirimu ; jika orang-orang berbuat baik, hendaknya kamu berbuat baik, tetapi jika mereka berbuat jahat, janganlah kamu berbuat dzalim”. [HR.Tirmidzi]
Kalau hijrah dalam pengertian ini menjadi keharusan bagi setiap Muslim secara umum, bagi seorang da’i sudah barang tentu lebih ditekankan lagi, karena seorang da’i sebagai panutan umat. Diatas pundaknyalah pertama kali tanggung jawab da’wah dipikulkan. Kalau kehidupan seorang da’i tidak ada bedanya dengan kehidupan masyarakat secara umum yang cenderung bebas nilai, siapa lagi yang diharapkan bisa memperbaiki keadaan masyarakat yang sudah rusak ini.

Makna Hijrah
Tahun baru Hijriyah adalah sistem penanggalan Islam yang didasarkan pada peristiwa hijrah yang dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya. Peristiwa tersebut menjadi starting point peradaban Islam menuju puncak kejayaan.
Dari peristiwa hijrah itu, spirit iman menjadi nyata dalam kata dan perbuatan, sehingga tidak heran jika setelah hijrah banyak sekali para sahabat yang memiliki kepribadian unggul nan mengagumkan. Perubahan mindset benar-benar terjadi secara totalitas pada diri seluruh umat Islam kala itu.
Secara bahasa, hijrah artinya berpindah. Sementara itu dalam konteks sejarah, hijrah adalah kegiatan perpindahan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad bersama para sahabat dari Makkah ke Madinah, dengan tujuan mempertahankan dan menegakkan risalah Allah, berupa akidah dan syari’at Islam.
Mereka yang berhijrah kala itu adalah Muslim yang tidak lagi memiliki tujuan apa-apa selain daripada rahmat Allah Ta’ala.
 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah [2]: 218).
Pada ayat yang lain Allah tegaskan bahwa orang yang berhijrah itulah orang yang terbukti benar keimanannya.
 “Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal [8]: 74).
Maka dari itu, mereka yang berhijrah di jalan Allah adalah orang yang tinggi derajatnya dan termasuk orang yang mendapat kemenangan besar.
الَّذِينَ آمَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ اللّهِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. At-Taubah [9]: 20).
Menafsirkan ayat tentang hijrah pada QS. 9: 20 Sayyid Qutb dalam tafsir Fi Dzilalil Qur’an mengatakan bahwa, Sesungguhnya tidak ada wujud hakiki (dari keimanan seorang Muslim) hanya semata-mata memeluk akidah, dan bukan pula dengan semata-mata melaksanakan ibadah-ibadah ritual.
Agama ini adalah manhaj kehidupan yang tidak tercermin wujud nyatanya kecuali dalam akumulasi gerakan, dalam bentuk masyarakat yang bekerja sama bahu-membahu. Adapun keberadannya dalam bentuk akidah hanyalah wujud hukmi (secara hukum) saja, bukan wujud riil, kecuali bila tercermin dalam bentuk gerakan nyata.
Dengan demikian makna hijrah dapat dipahami sebagai suatu gerakan perpindahan secara totalitas, mulai dari fikriyah hingga amaliyah, dari jahiliyah menuju Islamiyah dalam satu gerakan yang rapi, sistemik dan keseluruhan, baik dalam konteks pribadi maupun sosial.

Gerakan Perubahan Diri
Momentum hijrah tahun ini hendaknya benar-benar kita maknai sebagai media perubahan diri yang maksimal dalam penyempurnaan iman dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Sebab, jika tidak, boleh jadi kita merasa biasa saja dalam hidup ini. Seolah telah menjadi baik, padahal belum.
Momentum hijrah ini adalah media yang tepat untuk mendata secara mendetail siapa sebenarnya diri kita. Apakah yang paling kita cintai dalam hidup ini, apakah yang paling sering kita pikirkan dalam hidup ini, dan apa yang sebenarnya ingin kita raih dalam kehidupan dunia ini.
Menghadirkan pertanyaan semacam itu misalnya, akan sangat membantu setiap jiwa mengetahui siapa dirinya dan kemudian menetapkan tujuan dan posisi sebagai seorang Muslim secara tepat. Sebab, disadari atau tidak, kita evaluasi atau tidak diri kita, atau kita catat atau tidak amal perbuatan kita, Allah melalui malaikat-Nya tak pernah lengah mencatat amal kita sehari-hari.
 “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.” (QS. Ar Rad [13]: 11).
Menurut Ibn Katsir, setiap manusia dikelilingi empat malaikat, empat di siang hari dan empat di malam hari yang bertugas mengawasi setiap manusia secara bergiliran, dua sebagai penjaga dan lainnya sebagai pencatat amal perbuatannya.
Mungkin selama ini kita lupa tentan hal ini, maka di momentum hijrah ini kita harus benar-benar atur diri kita untuk sebisa mungkin melakukan amalan sholeh sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. Karena sesungguhnya, akan bagaimana kita ke depan sangat ditentukan oleh bagaimana kita hari ini.
Artinya, semakin baik kita dalam keseharian, itu berarti Malaikat tidak menghadap Allah kecuali melaporkan kebaikan, insya Allah kebaikan di masa depan itu pasti menjadi kenyataan. Karena setiap kebaikan berbalas kebaikan (QS. 55: 60) dan setiap kebaikan yang kita lakukan kembali pada kita sendiri (QS. 17: 7).
Di sinilah setiap Muslim harus melakukan agenda perubahan. Dengan spirit hijrah, itu bukan suatu yang mustahil. Sebab, Allah tidak akan pernah merubah suatu kaum (termasuk pribadi kita) jika kita sendiri tidak mau merubahnya (QS. 13: 11).

Penutup
Dari pembahasan diatas, menjadi jelas bagi kita bahwa hakikat hijrah baik makaniyah maupun maknawiyah itu sebenarnya adalah komitmen pada ketentuan Allah dengan meninggalkan segala bentuk sikap dan perilaku yang tidak menunujukan ketaatan kepada Allah. Dalam hal ini Rasulullah bersabda : “Apabila engkau mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka engkau orang yang berhijrah”. [HR.Ahmad dan Bazzar].
“Apabila engkau meninggalkan perbuatan keji, baik yang nyata maupun yang tersembunyi, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka engkau orang yang berhijrah”. [HR. Ahmad dan Bazzar].
Karena hakikat hijrah adalah melaksanakan perintah Allah dengan meninggalkan kemalasan dan kedurhakaan kepada-Nya serta meninggalkan larangan-larangan-Nya dengan meninggalkan segala bentuk kesukaan atau kecintaan kita kepada kemaksiatan, maka hijrah itu harus kita lakukan sepanjang perjalanan hidup kita sebagai muslim, kesemuanya ini tentu saja menuntut kesungguhan (jihad). Karena itu, iman, hijrah dan jihad merupakan kunci bagi manusia untuk meraih derajat yang tinggi dan kemenangan dalam melawan musuh-musuh kebenaran. Allah berfirman : “Orang-orang yang beriman , berhijrah dan berjihad dijalan Allah dengan harta dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya disisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan”. [QS.At Taubah : 20]


Senin, 31 Oktober 2016

menjadi guru kreatif




PENDAHULUAN
       I.            Latar Belakang
Lembaga pendidikan adalah salah satu harapan besar bagi negeri ini agar bisa bangkit dari keterpurukan dalam semua aspek kehidupan.Bangsa yang dilanda krisis sejak 1997 dan sampai sekarang belum mampu keluar dari krisis multidimensional ini membutuhkan lahirnya kader-kader muda yang handal ynag mempunyai ilmu pengetahuan dan teknologi modern.Dipundak mereka lah,kejayaan bangsa ini di pertaruhkan.Namun,kelahiran mereka tidak cukup hanya dinanti,ditunggu dan dibayangkan.kader-kader muda ini harus di rencanakan,diupayakan,dimunculkan,dan diperjuangkan dengan usaha maksimal,sistematis,dan terstruktur.
Dalam hal ini,guru adalah aktor utama,disamping orang tua dan elemen lainnya.Kesuksesan pendidikan yang dicanangkan .Tanpa keterlibatan aktif guru,pendidikan kosong dari materi,esensi dan substansi.Secanggih apapun kurikulum,visi,misi,dan kekuatan finansial,sepanjang gurunya pasif dan stagnan,maka kualitas pendidikan akan merosot tajam.Sebaliknya,selemah dan sejelek apapun sebuah kurikulum,visi misi dan kekuatan finansial,jika gurunya inovatif,progresif,dan produktif,maka kualitas pendidikan akan maju pesat.Apalagi jika sistem yang baik ditunjang dengan kualitas guru yang inovatif,maka kualitas lembaga pendidikan semakin dasyat.
Disinilah,letak strategis guru dalam dunia pendidikan.Karena itu,tidak ada pilihan lain,guru-guru yang ada harus memosisikan diri sebagai guru yang ideal dan inovatif,yakni guru-guru yang mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman,yang mempunyai kekuatan spiritual,intelektual,emosional,dan sosial yang tinggi,serta kreatif melakukan trobosan baru yang kontinyu dan konsisten.
Tetapi fakta nya,kebanyakan guru di indonesia tidak sesuai dengan harapan diatas.Mereka belum mencerminkan guru yang ideal dan inovatif yang siap mendidik siswa dengan profesionalisme dan optimisme.Oleh karena itu pemakalah ingin menyusun tentang menjadi guru kreatif dan inovatif.

PEMBAHASAN
1.      Arti penting Guru.
                 Pembahasan guru itu selalu menarik,karena ia adalah kunci pendidikan.Artinya,jika guru sukses,maka kemungkinan besar murid-muridnya akan sukses.Guru adalah figur inspirator dan motivator murid dalam mengukir masa depannya.Jika guru mampu menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi anak didiknya,maka hal itu akan menjadi kekuatan anak didik dalam mengejar cita-cita besar nya dimasa depan.
                 Ada beragam julukan yang diberikan kepada sosok guru.Salah satu yang paling terkenal adalah “pahlawan tanpa tanda jasa”.Julukan ini mengindikasikan betapa besarnya peran dan jasa yang dilakukan guru sehingga guru disebut sebagai pahlawan.Namun,penghargaan terhadap guru ternyata tidak sebanding dengan dengan besarnya jasa yang telah diberikan.
                 Ada banyak tokoh-tokoh yang sukses karena gurunya.Contohnya Imam syafi’i.Kesuksesan beliau tidak lepas dari peran guru-gurunya,khususnya Imam malik.Begitu juga dengan tokoh Hellen yang tidak mampu berbuat apa-apa dan tidak mengenal dunia,beliau di didik oleh gurunya yang begitu sabar.Akhirnya beliau mampu menjadi guru besar dan melahirkan pemikiran-pemikiran yang dapat diturunkan kepada anak cucunya,atau tokoh-tokoh yang sangat terkenal sekarang seperti Bj.Habibi yang mampu membuat pesawat terbang,Prof.Yahya.A.muhaimin yang dapat membangun sekolah tinggi STKIP ISLAM BUMIAYU yang sebentar lagi akan menjadi universitas,pemikiran beliau pun karena jasa-jasa gurunya.
2.      Hal-hal yang di benci oleh peserta didik.
                 Guru ideal tidak lepas dari penilaian murid.Untuk itu,seorang guru ideal  harus mendengarkan aspirasi murid agar perilakunya disenangi murid.Tidak sebaliknya,bersikukuh dan cuek dengan sikapnya sendiri tanpa memperhatikan penilaian dan aspirasi murid,karena harmonisasi hubungan guru dan murid sangat penting untuk efektivitas pembelajaran yang dinamis dan progresif.Dalam hal ini sebaiknya hal-hal yang dibenci murid menjadi parameter agar pembelajaran berjalan dengan baik,berikut hal-hal yang biasanya dibenci oleh peserta didik adalah sebagai berikut :
a)      Berpakaian kurang rapi.
b)      Jarang masuk.
c)      Pilih kasih(tidak adil)
d)     Suka memberi PR tanpa mengoreksi.
e)      Berkata kasar.
f)       Suka menyuruh.
g)      Menghukum semena-mena.
h)      Cuek didalam dan diluar kelas.

3.      Menjadi guru yang ideal dan inovatif
                 Menjadi guru yang ideal dan inovatif adalah sebuah tuntutan yang tidak bisa dielakan.Masa depan bangsa sangat ditentukan oleh kader-kader muda.Sedangkan penanggung jawab utama masa depan kader-kader muda tersebut berada dipundak guru,karena gurulah yang langsung berinteraksi dengan meraka dalam pembentukan kepribadian,memberi pemahaman,menerbangkan imajinasi dan cita-cita,membangkitkan semangat dan mengerakkan kekuatan mereka.
                 Disinilah guru dituntut menjadi busur yang kuat,dinamis,visioner ,dan powerful sehingga mampu melesatkan potensi dan cita-cita tinggi jauh ke angkasa,mejadi orang yang mampu memberikan kemanfaatan penuh bagi kemajuan dunia.Agar dapat menjadi guru yang dapat diinginkan seperti diatas,maka hal-hal di bawah ini dapat menjadi renungan bersama.
a)      Menguasai materi pelajaran secara mendalam.
                 Menguasai materi pelajara adalah syarat utama menjadi guru yang inovatif,karena dengan menguasai materi,kepercayaan diri terbangun dengan baik,tidak ada rasa was-was,dan bimbang terhadap pertanyaan murid.Ada pepatah mengatakan “the right man on the rightplace”,artinya guru yang ideal adalah guru yang mengajar sesuai bidangnya.
b)      Mempunyai wawasan luas.
                 Perubahan yang terjadi setiap saat akibat revolusi ilmu pengetahuan dan teknologi informasi berjalan dengan hitungan detik,oleh karena itu guru harus up to date sehingga cakrawala pemikirannya menjadi luas,mendunia.Karena sesuatu hal baru yang disampaikan seorang guru akan menjadi salah satu daya tarik murid yang dapat menggugah semangatnya mengikuti pelajaran guru.Siswa pun akan bangga mempunyai guru yang pengetahuannya luas.
c)      Komunikatif.
Guru yang suka menyapa dan memperhatikan kondisi muridnya lebih diterima oleh anak didik dibndingkan dengan guru yang cuek dan egois,yang datang hanya untuk menerangkan pelajaran lalu pulang,karena ketika seorang murid disapa ia akan merasa diperhatikan.
d)     Dialogis.
                 Ketika guru hanya mengandalkan metode ceramah tanpa ada ruang dialog,al hasil pemikiran anak tidak akan berkembang,dan semangat mengembangkan materi menjadi lemah.Disinilah pentingnya metode dialog interaktif yang melibatkan dua atau tiga arah,misalnya murid bertanya,guru menanggapi kemudian ditanggapi lagi oleh siswa yang lain.
e)      Mampu menggabungkan teori dan praktik.
                 Anak didik akan mudah jenuh kalau hanya dijejali dengan reori tanpa praktek.Praktek sangat diperlukan sebagai media menurunkan,mengedepankan,dan meletakan pemahaman materi pada otak anak didik.Praktek dapat langsung kelapangan atau sekedar di laboraturium,misalnya,untuk materi bahasa inggris siswa sekali-kali diajak study tour ke tempat pariwisata yang banyak turis asingnya agar mereka dapat mempraktikan dialog yang pernah diajarkan di sekolahnya.
f)       Bertahap.
                 Belajar ilmu adalah setahap demi setahap,dari satu,dua,dan seterusnya.Bertahap ini meniscayakan pentingnya materi yang disampaikan secara urut,tidak loncat-loncat.Dalam hal ini guru harus arif dan bijaksana,jangan memberi materi dalam satu kesempatan.Berilah sedikit demi sedikit agar anak didik dapat menerima dengan baik dan tidak mudah hilang.kita bisa mengambil metode ini dari peristiwa turunnya al-qur’an.
g)      Mempunyai variasi pendekatan.
                 Dalam proses belajar dan mengajar,seorang guru harus mempelajari banyak pendekatan pengajaran.Dengan menguasai pendekatan pengajaran yang banyak,proses belajar dan mengajar dapat berjalan secara variatif,tidak monoton dan selalu segar.
h)      Tidak memalingkan materi pelajaran.
                 Dalam mengajar,seorang guru harus berkonsentrasi penuh pada satu arah,satu target,dan satu tujuan yang dicanangkan,sehingga hasilnya dapat maksimal.Misanya, dalam materi agama tentang shalat,ia harus berbicara seputar shalat dan hal-hal lain bersifat menunjang.
i)        Tidak terlalu menekan dan memaksa.
                 Seorang guru harus berusaha untuk mengajar secara alami,tidak terlalu menekan dan memaksa murid,karena akan berakibat negatif bagi perkembangan psikologisnya.Guru harus menyelami psikologi anak didik,memberikan materi secara mengalir sesuai falsafah air yang mengalir secara pelan,mampu merobohkan hal-hal besar dengan ketekunan,kerajinan, dan kesungguhan.
j)     Humoris tapi serius.
              Salah satu guru yang ideal adalah berwatak dinamis,kompetetif,tapi humoris.Ditengah kepenatan pikiran,keletihan fisik, dan kebosanan berfikir,humor sangat diperlukan.Dengan selera humor yang tinggi,seorang guru dapat memecahkan suasana yang menjenuhkan,menghilangkan kepenatan,dan menyegarkan pikiran anak didik.Humor bukan sekedar alat penyegar,tetapi dilihat dari banyaknya pelajaran yang murid dapatkan dan jam yang begitu lama misalnya,dari jam 07.00 sampai 13.00,tentu beban pikiran mereka akan penat,disinilah peran guru dalam mengatur ritme,irama dan menghilangkan beban pikiran yang semakin berat,lebih baik guru menyelingi dengan humor atau permainan untuk menyegarkan otak mereka,dari pada guru ceramah tapi siswa tidak mendengarkan dengan baik.
4.      Memupuk kreativitas.
                 Bakat yang telah ditemukan dan kemudian teraktualisasi akan semakin menemukan momentum dalam mengantarkan kesuksesan manakala diikuti dengan kemampuan membangun kreativitas diri.Kreativitas ini merupakan upaya membangun berbagai terobosan yang memungkinkan bagi pemberdayaan dan penguatan bagi pengembang bakat yang telah tergali .Disinilah arti penting kreativitas untuk menunjang kesuskesan.
                 Untuk membangun kreativitas,ada beberapa syarat yang harus dipenuhi.Pertama,pengetahuan yang luas serta bidang yang dikuasainya dan keinginan yang terus menerus untuk mencari problem baru.Kedua,adanya sejumlah kualitas yang memungkinkan memunculkan respon seperti rasa percaya diri,ceria mandiri,kukuh pendirian,tidak mengenal lelah,dan kesiapan mengambil resiko.Ketiga,adanya kemampuan membagi konsentrasi,menjauh dari cara berpikir konvensional menggunakan kekuatan intuitif dan yang tidak tersadari untuk menyelesaikan masalah.Keempat,adanya keinginan kuat untuk mencapai keseimbangan saat menghadapi persoalan,sehingga selalu berakhir dengan cemerlang.
5.      Memberdayakan media.
                 Perkembangan media telah berlangsung secara cepat,dan membentuk budaya baru dengan segnifikan.Budaya baru ini,langsung atau tidak langsung,sudah mempengaruhi bagaimana siswa mengikuti sebuah proses pembelajaran.Ciri yang mendominasi adalah munculnya komponen budaya indrawi yang utuh,meliputi melihat,mendengar,merasakan,menyentuhkan dan bereksplorasi.
                 Bagi guru yang kreatif dan inovatif,kehadiran budaya baru ini selayaknya ditempatkan sebagai potensi dan tantangan untuk mengembangkan model pembelajaran yang lebih inovatif.Sebagai konskuensinya,guru juga harus mengikuti perkembangan budaya baru ini secara respontif.Pada zaman sekarang ini seorang guru jangan sampai gaptek ”gagal teknologi”,merespons secara kreatif terhadap perkembangan teknologi dan memanfaatkannya sebagai media untuk memperkukuh dan memaksimalkan hasil pembelajaran,merupakan hal yang tidak dapat dihindari lagi.
                 Untuk mengimplementasi rancangan tersebut maka dalam pembelajaran,ada dua pendekatan yang perlu dikembangkan,yaitu pendekatan visual-auditif dan pendekatan populer,untuk mendukung pendekatan tersebut,kita perlu mengupayakan sarana-sarananya antara lain:
v  Media gambar (visual) adalah sarana atau media yang berbentuk poster,lukisan,foto,karikarur,dan sebagainya,yang fungsinya untuk mendukung pembelajaran secara visual.
v  Media auditif adalah sarana atau media yang digunakan melalui pendengaran,misalnya lagu dari kaset,CD dan lainnya.
v  Media audio-visual (FILM) adalah sarana atau media yang utuh untuk mengolaburasikan bentuk visual dan audio.Sekarang hampir semua menggunakan komputer dan proyektor atau LCD.






PENUTUP
A.      Kesimpulan.
                Banyak cara yang dilakukan untuk menjadi guru yang ideal,kreatif dan inovatif yaitu,harus menyadari bahwa guru adalah publik figur yang sangat di hormati dimasyarakat,guru juga harus menjadi inspirasi bagi kader-kader muda yang akan menjadi cahaya masa depan ditangannya lah bangsa ini dijunjung.Guru merupakan orang yang sangat berpengaruh dalam hal ini,namun untuk menjadi guru yang ideal harus mempunyai wawasan yang luas,dialogis,komunikatif dan sebagainya.
            Dalam hal ini perkembangan  teknologi dapat mempengaruhi kinerja guru,karena guru dituntut untuk mengikuti perkembangan zaman,dan media pun sangat membantu jalannya pembelajaran,seperti media visual,audio dan audio-visual.
            Untuk itu guru seharusnya dapat menjadi contoh yang baik dan dan memunculkan ide-ide baru yang dapat memotivasi dan menginspirasi peserta didiknya.
B.      Saran.
                Agar para calon guru tidak menjadi guru yang jadul,hendaknya mulai dari bangku kuliahlah saatnya mengeruk ilmu para dosennya sebanyak-banyaknya,dan mencari informasi sebanyak-banyaknya diluar jam kuliah,agar nanti pas selesai maupun belum siap diterjunkan ke lapangan.
            Demikian makalah yang saya buat semoga ada manfaat nya.Terima kasih.


               






Daftar Pustaka
Asmani,Jamal ma’mur. 2011.Tips Menjadi Guru Inspiratif,Kreatif dan Inovatif. Yogyakarta: Diva press.
Naim,Ngainun. 2009 .Menjadi Guru Inspiratif. Yogyakarta: pustaka pelajar.