KESATUAN MEMEGANG TALI ALLAH
(kajian tafsir ali-Imran:103) bagian pertama
A. Teks Ayat dan Tarjamahnya
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا
تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً
فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ
عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ
اللَّهُ لَكُمْ آَيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Dan berpeganglah kamu semuanya
kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan
ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan,
maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah
orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu
Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan
ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.Qs.3:103
1. Ayat sebelumnya menyerukan agar setiap orang mu`min bertaqwa
dengan sebenar-benarnya taqwa, serta jangan mati kecuali dalam keadaan muslim.
Ayat selanjutnya memberikan bimbingan tentang cara menjadi mu`min sempurna
antara lain berpegang pada tali Allah, menjalin persaudaraan, syukur ni’mat,
membentuk umat yang terdiri dari berbagai satuan tugas.
2. Jika ayat 102 dikaji dari sudut langkah meraih kebahagiaan
paripurna, maka ayat 103-104 merupakan rangkaian dari langkah iman, taqwa dan
Islam.
C. Tinjauan Historis
Tatkala Rasul SAW serta shahabatnya tiba di Madinah, kaum Aus dan
Kahzraj merupakan kedua kelompok saling bermusuhan di jaman jahiliyah dapat
disatukan menjadi bersaudara. Namun pada suatu saat ada perselisihan di anatar
kedua kelompk itu hingga hamper terjadi tawuran. Ayat ini menyeru mereka agar
tetap berpegang teguh pada tali Allah dengan persatuan, jangan terus bertengkar
seperti jaman jahiliyah.
D. Tafsir Kalimat
1. وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, Pangkal ayat ini menyerukan agar setiap mu`min berpegang teguh pada
حَبْلِ اللَّهِ tali
Allah. Yang dimaksud dengan tali Allah menurut al-Baydlawi adalah agama Islam
atau kitab-Nya. Pengertian tersebut beralasan pada sabda Rasul SAW:إنِّي تَارِكٌ فِيْكُمْ كِتَابَ الله هُوَ حَبْلُ الله
مَنِ اتَّبَعهُ كَانَ عَلَى الْهُدَى وَمَنْ تَرَكَهُ كَانَ عَلَى الضَّلاَلَة Aku tinggalkan di antara kalian
kitab Allah. Ia adalah Tali Allah. Barang siapa yang mengikutinya, niscaya
berada atas petunjuk hidayah. Barangsiapa yang meningalkannya, niscaya tersesat. Hr. Ibn Abi Syaybah dan Ibn Hibban. Dengan kata lain
berpegang teguh pada tali Allah, berarti berpedoman hidup pada al-Qur`an.
Ibn al-Jauzi (508-597H) menerangkan bahwa بِحَبْلِ
اللَّهِ memiliki beberapa pengertian antara lain: (1) kitab
Allah, al-Qur`an sebagaimana diriwayat Syaqiq dari Ibn Mas’ud, yang disepekati
Qatadah, al-Dlahak dan al-Suddi. (2) Jamaah semua muslimin sebagaimana
dikemukakan oleh al-Sya’bi masih dari Ibn Mas’ud. (3) Agama Allah sebagaimana
dikemukakan Ibn Abbas, Ibn Zaid yang menegaskan al-Islam, Muqatil, dan Ibn
Qutaibah. (4) Janji dengan Allah, sebagaimana dikemukakan Mujahid, Atha. (5)
al-Ikhlash, sebagaiman dikemukakan Abu al-Aliyah. (6) Perintah Allah dan kemestaian
menaatinya, sebagaimana dikemuakan oleh Muqatil bin Hayan.
2. جَمِيعًا bersama-sama secara keseluruhan
Menurut Abu al-S’ud, perkataan جَمِيْعًا
berkedudukan sebagai keterangan keadaan yang diperintah oleh kalimat وَاعْتَصِمُوا, maka ma’nanya adalah مجتمعين في الاعتصام bersama-sama dalam berpegang teguh/
memegang teguh tali Allah secara berjamaah bersama-sama.
Istilah جَمِيْعًا bisa berma’na secara
keseluruhan atau total berpedoman pada al-Qur`an, bisa juga berma’na semuanya
atau bersama-sama. Rasul SAW bersabda:فَعَلَيْكَ
بِالجَمَاعَةِ فَإنَّمَا يَأكُلُ الذِّئْبُ القَاصِيَة hendaklah kamu berjamaah.
Sesunguhnya serigala itu memakan hewan yang memisahkan diri. Hr. Ibn Hibban.
عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه
وسلم أنه قال مَنْ خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ
الجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَة
Dari Abu Hurairah diriwayatkan
dari Nabi SAW bersabda: Barangsiapa yang memisahkan diri dari taat dan dari
jamaah maka mati seperti mati jahiliyah (Hr.
Muslim ,)
Yang dimaskud dengan ke luar dari jamaah dalam hadits ini adalah
murtad atau menjadi kafir. Berpegag pada jamaah berarti memegang teguh Islam
secara bersama dalam kepemimpinan muslim. Rasul SAW bersabda: مَنْ رَأى مِنْ أمِيْرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِر فَإنه لَيْسَ
أحَد يُفَاِرقُ الجَمَاعَة شِبْرا فَيَمُوتُ إلا مَاتَ مِيْتَةً
جَاهِلِية Barangsiapa yang melihat pemimpin kurang disenangi bersabarlah.
Sesungguhnya barangsiapa yang memisahkan diri dari jamaah satu jengkal kemudian
mati, maka seperti mati jahiliyah. Hr. al-Bukhari,
عن
النبي صلى الله عليه وسلم قال السَّمْع والطَّاعَة عَلى المَرْءِ
المُسْلِمِ فِيْمَا أحَبَّ وَكَرِه مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ فَإذا أُمِرَ
بِمَعْصِيَةٍ فَلا سَمْعَ ولا طَاعَة
Rasul SAW bersabda: Taat dan
patuhmerupakan kewajiban seorang muslim, baik dalam keadaan senang maupun
tidak, sepanjang tidak diperintah ma’shiat. Jika diperintah ma’siat, maka tidak
ada ketaatan dan kepatuhan baginya. Hr. al-Bukhari
Adapun pengertian jamaah adalah berpegang pada kebenaran.
قال ابن مسعود: إن الجَمَاعَةَ مَا
وَافَقَ طَاعَة الله
Kata Ibn Mas’ud (w.32H)
sesungguhnya jamaah itu adalah kesesuaian dengan taat pada Allah SWT. Al-Thabarani (w.360H)
Ketepatan jamaah tidak ditentukan oleh banyaknya anggota, tapi
tepat atau tidaknya menjalankan ajaran al-Islam. Dalam riwayat lain Ibn Mas’ud
menandaskan: الجَمَاعَة مَا وَافَقَ طَاعَةَ الله
وَإنْ كُنْتَ وَحْدَك Jamah ialah kesesuaian dalam mentaati Allah SWT walau anda
sendirian. Hibat Allah (w.418H). Berdasar definisi
ini, jelaslah bahwa jamaah yang benar bukan ditentukan oleh jumlah anggotanya,
tapi ditentukan oleh sesuai atau tidaknya dengan syari’ah. Orang yang menentang
kebenaran berarti meninggalkan jamaah, walau berjumlah banyak. Orang yang tetap
berada pada jalan yang benar berarti termasuk berjamaah, walau sendirian.
3.وَلَا تَفَرَّقُوا janganlah bercerai berai
Setelah diserukan untuk berjamaah, maka pada kalimat ini ditegaskan
larangan tafaruq, bercerai berai atau meninggalkan jamaah. Dalam memahami
al-Qur`an, bisa saja berbeda, tapi jangan sampai bercerai berai sebagaimana terjadi
pada kelompok yahudi dan nashrani.
عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
تَفَرَّقَتْ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ أَوْ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ
فِرْقَةً وَالنَّصَارَى مِثْلَ ذَلِكَ وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ
وَسَبْعِينَ فِرْقَةً
Diriwayatkan dari Abi Hurairah
bahwa rasul SAW bersabda: yahudi terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan
atau tjuh puluh dua golongan, nashrani pun demikian. Sedangkan umatku menjadi
tujuh puluh tiga kelompok. Hr. Abu Dawud dan
al-Turmudzi.
Dalam hadits lain ditandaskan:
تَفْتَرِقُ
هَذِهِ الأمَّة عَلَى ثَلاَثِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَة كُلُّهُم فِي النَّار إلا
وَاحِدة قَالُوا وَمَا تِلْكَ الفِرْقَة قال مَا اَنَا عَلَيْه اليَوْم
وَأصْحَابِي
Umatku ini terdiri atas tujuh
puluh tiga firqah yang semuanya masuk neraka kecuali satu saja. Shabat bertanya
siapakah yang selamat itu? Rasul bersabda: yang sesuai dengan aku hari ini dan
para shabatku. Al-Thabrani
(w.360), dalam riwayat Ibn Umar:
كُلُّهُم فِي النَار
إِلاَّ مِلَّة وَاحِدَة قَالوا مَا هِي قَالَ مَا أَنَا عَلَيْه وأصْحَابِي
Semua masuk neraka kecuali
agama yang satu. Shabat bertanya yang mana? Rasul bersabda; Agama yang ku
pegang atasnya dan para shahabatku. Hr.Al-Turmudzi
(w.279 H)
Dengan demikian yang dimaksud tujuh puluh tiga golongan bukan
berupa organisasi atau jam’iyah, tapi kelompok berbeda agama. Umat saat ini,
agamanya berbeda-beda, hanya satu yang masuk surga yaitu yang mengikuti Rasul
SAW dan shahabatnya, yaitu yang berpedoman pada al-Qur`an dan al-Sunnah. Dengan
kata lain, orang yang meninggalkan al-Qur`an, al-Sunnah dan tidak mengikuti
shahabat Rasul berarti telah meninggalkan jamaah. Adapun perbedaan faham dalam
masalah keagamaan tidak bisa disatukan, yang penting jangan sampai tafaruq.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ
أَنَّهُ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ
صَلَّى سُبْحَةَ الضُّحَى ثَمَانِ رَكَعَاتٍ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ
إِنِّي صَلَّيْتُ صَلاةَ رَغْبَةٍ وَرَهْبَةٍ سَأَلْتُ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ
ثَلاث فَأَعْطَانِي ثِنْتَيْنِ وَمَنَعَنِي وَاحِدَةً سَأَلْتُ أَنْ لاَ
يَبْتَلِيَ أُمَّتِي بِالسِّنِينَ فَفَعَلَ وَسَأَلْتُ أَنْ لاَ يُظْهِرَ
عَلَيْهِمْ عَدُوَّهُمْ فَفَعَلَ وَسَأَلْتُهُ أَنْ لاَ يَلْبِسَهُمْ
شِيَعًا فَأَبَى عَلَيَّ
Anas bin Malik menerangkan:
Saya melihat rasul SAW pada sutau perjalanan melakukan shalat dluha delapan
raaka’at. Tatkala selesai beliau bersabda: Sesungguhnya aku shalat dengan penuh
harap dan cemas. Saya bermohon pada Tuhanku yang Maha Agung dengan tiga
permohonan, tapi Ia hanya mengabulkan dua dan menolak satu. Aku mohon agar
umatku jangan dilanda penderitaan oleh penyakit tua, Ia mengabulkannya. Aku
mohon agar umatku tidak dikalahkan oleh musuhnya, Allah mengebulkan. Namun aku
bermohon agar umatku berada pada satu pandangan tidak dilanda pengelompokan, Allah
SWT menolaknya. Hr. Ahmad
(w.241H)dan al-Hakim
Hadits ini memberi isyarat bahwa perbedaan pendapat tidak akanm
bisa dihilangkan. Adapun yang dilarang adalah tafarruq, bukan ikhtilaf. Iktilaf
boleh, jangan menimbulkan tafarruq, tapi tetap berjamaah. Rasul SAW bersabda: وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ Jamaah itu mendatangkan rahmat,
dan perpecahan mendatangkan siksa. Hr. Ahmad (w.241) Antara
jamaah dan tafarruq dapat digambarkan seperti berikut:
4. وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ
اللَّهِ عَلَيْكُمْ dan ingatlah akan ni`mat Allah
kepadamu
Secara histories, ayat ini berkaitan dengan peringatan terhadap
kaum khazraj dan kaum Aus yang sempat terprofokasi hingga hamper bermusuhan
lagi. Mereka yang sebelum Islam bermusuhan, kemudian menjadi bersaudara terikat
oleh ukhuwah Islamiyah. Kesatuan aqidah di antara mereka menjadi ni’mat yang
sangat penting. Dengan demikian ni’mat mesti diingat dalam ayat ini adalah
ni’mat Islam. Namun tentu saja pengertiannya berlaku umum, agar setiap mu`min
selalu mengingat ni’mat yang telah Allah SWT berikan. Menurut al-Baydlawi
ni’mat yang paling utama adalah hidayah dan taufiq hingga bahagia ber-Islam,
senang berada pada jalan yang terang, dan terbebas dari pengaruh jahilyah yang
menyesatkan. Setiap manusia, di samping memiliki kekurangan, juga
mempunyai kelebihan, di samping mengalami kesulitan, juga sering memperoleh
keni’matan. Untuk meraih kebahagiaan hendaklah banyak mengingat ni’mat, jangan
terlalu sering meningat-ingat kesulitan. Dengan banyak mengingat ni’mat akan
terdorong untuk bersyukur. Orang yang bersyukur akan mandapatkan kebahagiaan
dan berbagai kebaikan. Rasul SAW bersabda:
عَجِبْتُ
لِلْمُؤْمِنِ إِذَا أَصَابَهُ خَيْرٌ حَمِدَ اللَّهَ وَشَكَرَ وَإِنْ
أَصَابَتْهُ مُصِيبَةٌ حَمِدَ اللهَ وَصَبَرَ فَالْمُؤْمِنُ يُؤْجَرُ فِي
كُلِّ أَمْرِهِ حَتَّى يُؤْجَرَ فِي اللُّقْمَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى فِي
امْرَأَتِهِ
Aku sangat kagum atas sifat
orang mu`min. Jika ia meraih kebaikan, memuji Allah dengan hamdalah dan
bersyukur. Bila terkena mushibat memuji Allah (dengan istirja) dan shabar, maka
semuanya jadi pahala; bahkan satu suap yang diberikan
pada istrinya mendatangkan pahala. Hr. Ahmad
(w.241H), Ibn Humaid (w.249H)
Berdasar hadits ini, factor yang mendatangkan kebaikan dan
kebahagiaan, antara lain (1) syukur tatkala meraih ni’mat, (2) shabar tatkala
terkena mushibat, (3) beramal sekecil apa pun bertujuan mengharapkan pahala
atau imbalan hanya dari Allah.
Hikmah dari syukur berdasar hadits tersebut antara lain (1) iman
meningkat, (2) pahala bertambah, (3) mendatangkan kebaikan yang banyak, (4)
meraih bahagia paripurna. Dalam ayat lain ditandaskan :وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُم
وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ Ingatlah ketika Tuhanmu
mem-peringatkan: Jika kalian syukurAkau tambah, dan jika kalian kufur,
sungguh siksa-Ku amat keras. Qs.14:7
Adapun cara bersyukur tersirat pada hadits berikut:
مَنْ لَمْ يَشْكُرْ
الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرْ الْكَثِيرَ وَمَنْ لَمْ يَشْكُرْ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرْ
اللهَ التَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللهِ شُكْرٌ وَتَرْكُهَا كُفْرٌ وَالْجَمَاعَةُ
رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ
Barangsiapa yang tidak
mensyukuri yang sedikit, berarti tidak mensyukuri yang banyak. Barang siapa
yang tidak berterima kasih pada manusia, berarti tidak bersyukur pada Allah.
Menyebut ni’mat Allah, merupakan salah satu aspek sykur. Meninggalkan syukur,
sama dengan kufur. Berjamaah itu mendatangkan rahmat. Bercerai berai
mendatangkan adzab. Hr. Ahmad
(w.241)
Berdasar hadits ini cara bersykur antara lain (1) menerima apa
adanya atas pemberian baik yang banyak atau pun yang sedikit, (2) berterima
kasih kepada manusia, (3) memuji Allah, (4) tidak menyembunyikan ni’mat, (5)
memanfaatkan ni’mat secara optimal dan berjamaah.
5. إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً ketika kamu dahulu (masa
Jahiliyah) bermusuh musuhan, فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ maka Allah melunakan hatimu.
Menurut al-Thabari, kalimat ini merupakan tafsir dari kalimat نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ (ni’mat Allah). Dengan
kata lain ni’mat Allah SWT yang paling penting terhadap kaum muslimin khususnya
di Madinah adalah terjalinnya persaudaraan, oleh kesatuan aqidah yang awalnya
bermusuhan. Ingatlah dengan ni’mat Allah berupa diutusnya Nabi Muhammad SAW
membawa al-Islam, permusuhan pun menjadi persaudaraan. Potongan ayat ini, juga
mengisyaratkan kecaman terhadap orang yang bermusuhan. Al-Islam adalah agama
perdamaian yang menghaluskan hati yang kasar, menyatukan yang berpecah belah.
Oleh karena itu hendaknya menghindari sikap, ucap atau tindakan yang
menimbulkan perselisihan. Caranya antara lain tersirat pada sabda Rasul SAW
berikut.
إِيَّاكُمْ
وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا
تَحَسَّسُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَكُونُوا إِخْوَانًا وَلَا يَخْطُبُ الرَّجُلُ
عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ حَتَّى يَأذن أَوْ يَتْرُكَ
Jauhilah olehmu buruk sangka,
karena termasuk kebohongan. Janganlah mencari-cari informasi tentang kesalahan
orang, jangan pula mencari-cari kesalahan orang, dan jangan saling membenci.
Jadilah kalian bersaudara, dan jangan meminang yang telah dilamar orang lain
hingga mengizinkan atau meninggalkannya.
Hr. al-Bukhari. Dalam riwayat lainnya, Rasul SAW bersabda:
لا تَبَاغَضُوا
وَلا تَحَاسَدُوا وَلا تَدَابَرُوا وَكُوْنُوْا عِبَادَ الله إخْوَانًا وَلاَ
يَحِلُّ لِمُسْلم أنْ يهْجرَ أخَاهُ فَوْقَ ثَلاثَة أيَّام
Jangan saling benci, jangan iri
hati, jangan saling membelakangi. Jadilah kalian yang bersaudara. Tidak halal
seorang muslim menghindari sesamanya karena marah melebihgi tiga hari. Hr. al-Bukhari dan Muslim.
Berdasar kedua hadits ini, setiap muslim hendaklah menjauhi sikap
atau perbuatan yang memicu permusuhan seperti (1) buruk sangka, (2)
mencari-cari kesalahan, (3) mengungkit keburukan orang, (4) rasa dendam dan
benci, (5) iri hati dan dengki, (6) merebut hak orang lain, (7) saling
menghindar atau membelakangi, (8) rasa permusuhan.
6. فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا karena ni`mat Allah, lalu
kamu menjadilah orang-orang yang bersaudara;
Dengan keni’matan yang Allah SWT anugerahkan pada setiap mu`min,
maka mereka menjadi bersaudara. Persaudaraan sesame muslim tidak terbatas oleh
jauhnya hubungan nasab, tidak terhalang oleh dinding batas Negara, tidak
terpengaruh perbedaan bangsa. Sesama muslim memiliki kesatuan aqidah, ikatan
ukhuwah, bahkan mempunyai bahasa pemersatu bahasa al-Qur`an. Inilah suatu
ni’mat besar persaudaraan yang tidak dimiliki oleh agama lainnya. Persaudaraan
sesama muslim tak ubahnya satu bangunan yang kokoh, setiap komponennya saling
menguatkan. Rasul SAW bersabda:
الْمُؤْمِنُ
لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا ثُمَّ شَبَّكَ بَيْنَ
أَصَابِعِهِ
Sesama mu’min itu bagaikan satu
bangunan yang setiap komponen menguatkan komponen lainnya. Rasul mencontohkan
dengan mengepalkan jari-jemarinya. Hr. al-Bukhari,
Muslim, al-Turmudzi . Bahkan bagaikan satu tubuh yang tatkala terkena askit
salah satu angota tubuh, maka yang lainnya ikut merasakan dan mengobati. Rasul
SAW bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ الْجَسَدِ
إِذَا اشْتَكَى الرَّجُلُ رَأْسَهُ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ
Perumpamaan orang mu`min
seperti satu tubuh, jika seseorang terkena penyakit di kepala maka anggota
tubuh lainnya ikut merasakan. Hr. Ahmad.
7. وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ
النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا dan kamu telah berada di tepi
jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya.
Perkataan شَفَاحُفْرَةٍ
mengandung arti tepi jurang seperti orang yang hampr terjatuh ke sumur yang
dalam. Orang yang kumur atau musyrik hingga mendekati kematian, tak ubahnya
hampr saja mereka terjerumus pada kehancuran, atau sumur yang di dalamnya penuh
siksaan. Al-Islam menyelamatkan orang yang hampr terjerumus pada siksaan. Menurut
al-Tsa’alibi, kalimat حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ
ini mengumpamakan kekufuran dan kemusyrikan sama dengan berada di jurang
neraka. Al-Islam membebasakan manusia dari kemusyrikan dan kekufuran, sama
dengan menyelamatkan mereka dari jurang neraka menuju surga. Dengan demikian
salah satu fungsi syari`ah ditetapkan adalah untuk menyelamatkan umat dari tepi
jurang neraka. Oleh karena itu, setiap muslim yang berda’wah sama dengan
berusaha saling menyelamatkan sesamanya. Prinsip Islam adalah membawa
keselamatan dan perdamaian. Rasul SAW pernah ditanya oleh Abu Musa al-Asy’ari
tentang muslim yang paling baik. Beliau bersabda:مَنْ
سَلِمَ المُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ Orang yang mejaga keselmatan
sesama muslim, dari ucapan dan tindakannya.
Hr. Muslim,
8. كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ
ءَايَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ Demikianlah Allah menerangkan
ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.
Oleh karena itu hendaklah selalu berusaha mengkaji ayat-ayat Allah
secara mendalam agar meraih hidayah dari-Nya. Dengan hidup mengikuti hidayah
Allah akan selamat di dunia dan di akhirat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar