KERELAWANAN
ADALAH SOLUSI
Relawan sebuah istilah yang terkadang dipandang sebelah
mata oleh sebagian kalangan. Dalam kesempatan lain dianggap “topeng” bagi
orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan jelas. Sering pula diasumsikan
sebagai “pengacara” (pengangguran banyak acara). Predikat yang tidak jelas
nominal gajinya. Namun di saat lain, relawan sesekali dianggap sebagai pahlawan
tanpa tanda jasa. Namanya juga relawan, jadi harus rela dalam setiap situasi
dan kondisi. Bahkan lebih dari itu, seorang relawan harus dituntut untuk siap
dalam kondisi tidak menentu.
Munculnya problematika hidup dan hadirnya musibah dalam
kehidupan manusia menjadi tantangan dan kendala yang harus dihadapi. Ditambah
lagi sifat ketergantungan manusia dengan sesama saudaranya menjadi factor utama
wujudnya relawan. Uluran bantuan dan kepedulian terhadap sesama adalah simponi
kehidupan yang menambah indah arti kehidupan. Tidak mengherankan jika dalam
suatu kondisi mereka –para relawan- menjadi mulia dan dipuja. Namun boleh jadi,
dalam kesempatan lain bisa dicerca dan dihina, hanya karena ingin menjadi
“relawan sebenarnya”.
Dalam Islam, dunia kerelawanan sebenarnya telah lama
dipraktekkan. Keberadaan para sahabat di sekitar Nabi Muhammad -shollallohu
‘alaihi wa sallam- menjadi cerminan relawan sejati. Mereka –para sahabat
Nabi- menyadari betul bahwa hidupnya didedikasikan untuk menolong dakwah Nabi
-shollallohu ‘alaihi wa sallam- tanpa memikirkan gaji ataupun insentif yang
akan didapatkan secara materi duniawi. Namun sesuatu yang pasti mereka harapkan
adalah ridho dan janji Allah ta’ala. Merekalah relawan sejati yang mendapatkan
sanjungan dari Ar Rohmân dan dalam Al
Qurân :
مُحَمَّدٌ
رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ
بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا
سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي
التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ
فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ
الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ
مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (29(
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya
adalah orang-orang yang bersikap tegas terhadap orang-orang kafir dan bersikap
lemah lembut di antara mereka. Engkau melihat mereka dalam kondisi ruku’ dan
sujud, mereka mencari karunia dan keridhoan dari Allah. Tanda-tanda mereka
tampak pada wajah mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam
Taurot dan sifat-sifat mereka dalam Injil yaitu seperti tanaman yang
mengeluarkan tunasnya, lalu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah
dia dan tegak lurus di atas pokoknya, tanaman itu menyenangkan hati para
penanam karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan
kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman
dan mengerjakan amal sholih di antara mereka ampunan dan pahala besar”. (QS. Al
Fath : 29)
Menjadi seorang relawan dakwah maupun kemanusiaan sebagai
ujud solidaritas terhadap sesama bukanlah perkara mudah. Seorang relawan
tentulah memahami dan menyadari bahwa “dunia” yang diterjuninya merupakan dunia
penuh resiko dan pengorbanan. Sebuah dunia yang menguji makna kesabaran dan
ketawakkalan kepada Robb Penguasa alam.
Beratnya tantangan yang dihadapi seorang relawan baik
dalam misi dakwah ataupun misi kemanusiaan menuntut kesabaran tinggi. Di antara
tantangan yang dihadapi adalah seperti meninggalkan keluarga demi suatu tugas
yang tidak terlalu menjanjikan materi duniawi. Setiap hari berhadapan dengan
problematika umat yang jarang sekali orang peduli dengannya. Ada kalanya harus berkorban
dana dan tenaga demi tercapainya tujuan mulia agar umat terlayani hajat
hidupnya dan faham dengan agamanya. Tidak mengherankan jika Allah menyanjung
amalan ini melalui firman-Nya :
وَمَنْ
أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي
مِنَ الْمُسْلِمِينَ (33(
“Siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang
menyeru kepada Allah, mengerjakan amal sholih dan berkata : sesungguhnya aku
termasuk orang-orang yang menyerah diri”. (QS. Fushilat : 33)
Mengenai penjelasan ayat tersebut, Imam Hasan al Bashri
berkata : “Inilah kekasih Allah, dia lah wali Allah, dia
lah hamba pilihan Allah. Inilah makhluq yang paling dicintai oleh Allah,
dirinya menjawab seruan Allah dan mengajak manusia menuju kepada seruan-Nya,
lalu mengerjakan amal sholih dalam ketaatan kepada-Nya dan berkata :
sesungguhnya diriku bagian dari orang-orang Islam, maka inilah kholifatulloh”.[1]
Bagi seorang muslim dan muslimah, menjadi relawan Islam
sejatinya menjadi tuntutan iman. Karena Allah ta’ala menyeru :
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا أَنْصَارَ اللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ابْنُ
مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّينَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ
نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ فَآمَنَتْ طَائِفَةٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَكَفَرَتْ
طَائِفَةٌ فَأَيَّدْنَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَى عَدُوِّهِمْ فَأَصْبَحُوا
ظَاهِرِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penolong (agama)
Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikut
setianya (hawariyyin): “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk
menegakkan agama) Allah?” Pegikut-pengikutnya yang setia itu berkata: “Kamilah
penolong-penolong agama Allah”, lalu segolongan dari bani israil beriman dan
segolongan lain kafir, maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang
beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu menjadi pemenang”. (QS. Al Shoff : 14)
Imam Ibnu Jarir al Thobari menukil perkataan Qotadah
dalam tafsirnya : “Allah telah memiliki penolong-penolong agama-Nya dari umat
ini yang senantiasa berjihad di atas Kitab-Nya dan hak-Nya”. Disebutkan pula
bahwa ada 72 orang Anshor (dari Madinah) yang berbai’at kepada Nabi Muhammad
-shollallohu ‘alaihi wa sallam- di malam ‘Aqobah. Kemudian sebagian di antara
mereka berkata: “Apakah kalian tahu atas perkara apa kalian berbai’at dengan
Nabi Muhammad? Sesungguhnya kalian berbai’at dalam rangka memerangi
seluruh bangsa Arab sampai mereka berislam”.[2]
Imam Al Qurthubi menjelaskan dalam tafsirnya : “Dia (Allah) telah meneguhkan perintah jihad, jadilah kalian
penolong-penolong nabi kalian agar Allah memenangkan kalian atas orang-orang
yang menyelisihi kalian sebagaimana Allah telah memenangkan pengikut-pengikut
Isa atas orang-orang yang menyelisihi mereka”.[3]
Dari sini lah pandangan seorang relawan tentang siapa
sebenarnya dirinya bermula. Seorang relawan sejatinya tidaklah bekerja
melainkan menjadi penolong Nabi. Dirinya tidaklah beraktifitas melainkan
menjadi pejuang bagi Allah. Sungguh amalan agung nan mulia. Pekerjaan yang
sudah seharusya dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan sekuat tenaga. Karena
amalan tersebut akan dipersembahkan untuk Allah Robb semesta alam, itulah
ibadah. Tidak ada cara lain bagi seorang hamba agar ibadahnya diterima kecuali
hanya dengan ikhlas.
Keikhlasan inilah yang menjadi “energi”
hebat bagi seorang relawan Islam. Karena hanya dengan ikhlas, seorang relawan
mampu mengorbankan apa yang dimilikinya dari harta dan jiwanya sekalipun.
Ikhlas adalah mesin penggerak yang mampu mendorong seorang relawan melakukan
suatu hal besar yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain. Lihatlah bagaimana
para sahabat Nabi yang berbondong-bondong memenuhi seruan Nabi untuk menghadapi
serbuan pasukan kafirin salibis Romawi. Mereka datang untuk ikut serta
berperang menemani Nabi tercinta. Uniknya, mereka ikut berperang bukan hanya
untuk mendapatkan gaji sebagai seorang tentara. Namun justru mereka
mendaftarkan diri dengan membawa harta dan jiwa mereka di hadapan Rosululloh
-shollallohu ‘alaihi wa sallam-.
Hingga didapatkan orang-orang yang berlinang air matanya
dikarenakan tidak memiliki perbekalan untuk ikut serta menemani Nabi dalam
perang suci. Itulah yang terjadi dalam sejarah perjuangan generasi awal Islam
di perang Tabuk. Ketulusan hati mereka diabadikan dalam Al Qurân :
“Tiada dosa (lantaran tidak bisa pergi berjihad) atas orang-orang
yang lemah, orang sakit, dan atas orang yang tidak memperoleh apa yang akan
mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya.
Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (91). Dan tiada pula berdosa atas
orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu supaya kamu memberi mereka
kendaraan lalu kamu berkata: “aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawa mereka
kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran
mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan (92)”. (QS. At Taubah: 91 – 92)
Ikhlas menjadi obat kegundahan hati relawan Islam. Di
saat anak-anak dunia (baca: pecinta dan pencari dunia) sering menuntut materi
dan gaji, di saat mereka ogah-ogahan berkarya karena minimnya fasilitas, maka
seorang relawan Islam akan tetap terus berjuang meski dengan minimnya
fasilitas. Dirinya akan tetap terus berjuang meski tidak ada lagi harapan gaji
besar. Dirinya akan tetap terus tegar menjadi tameng hidup Islam meski janji
naik pangkat jabatan dunia tidak didapatkan. Kenapa sampai seberani itu ?
karena seorang relawan Islam tahu betul dan meyakini bahwa yang mencukupi
hidupnya adalah Allah. Keikhlasan dirinya membawa pada satu maqom mulia yaitu hadirnya kebersamaan dengan
Allah (ma’iyyatullah). Apalagi yang dirisaukan oleh seorang
relawan Islam ?! sementara hidupnya telah ditanggung dan dicukupi oleh Allah
dari arah yang tak disangka-sangka. Allah berfirman :
أَلَيْسَ
اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِنْ دُونِهِ وَمَنْ يُضْلِلِ
اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ
“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-Nya. Dan mereka
menakutimu dengan (sembahan-sembahan) selain Allah. Dan barang siapa yang
disesatkan Allah maka tidak seorangpun pemberi petunjuk baginya”.(QS. Az Zumar : 36)
وَمَنْ
يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا
يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ
بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا (3(
“… Barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan
baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak
disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah niscaya Allah
akan mencukupkan (keperluannya) sesungguhnya Allah melaksanakan urusannya yang (dikehendaki)Nya.
Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tipa sesuatu”. (QS. Ath Tholaq: 2 – 3)
Bagi relawan Islam yang siap memperjuangkan hak-hak Allah
ta’ala, keridhoan Ar Rohman adalah obsesi tertingginya. Itulah gambaran yang
didapatkan dari relawan Islam generasi awal (para sahabt Nabi). Tidak
didapatkan keluh kesah dalam menjalankan tugas relawan di sekitar Rosululloh
-shollallohu ‘alaihi wa sallam-. Meskipun mereka harus mengeluarkan apa yang
mereka miliki dari harta dan jiwanya. Dan kehidupan mereka pun juga tidak
terlunta-lunta. Inilah perkara yang mungkin tidak bisa diterima oleh nalar seorang
pragmatis opurtunis. Namun inilah kenyataan dan bukti kebenaran janji Ar Rohman
untuk relawan Islam.
7 Alasan Kenapa Jadi Relawan
Akan Menjadikan Hidupmu Sendiri Lebih Ringan
1.
2. Dengan Menjadi
Relawan, Kamu Bisa Melihat Prespektif Baru Yang Sebelumnya Belum Pernah Kamu
Tahu
3. Kamu Punya
Kesempatan Lebih Mengenal Dirimu Sendiri Dan Lingkunganmu
4. Secara
Kesehatan, Kegiatan Menjadi Relawan Baik Untuk Kesehatan Mental . Karena Bisa
Mengurangi Stres Dan Membuatmu Lebih Bahagia
5. Menjadi Relawan
Juga Menjadi Nilai Plus Untuk Prospek Kerjamu Nanti
6. Kamu Ingin
Menggali Minat dan Bakatmu Lebih Dalam? Kamu Bisa Berkreasi Sepuasnya Di
Kegiatan Ini.
7. Dengan Menjadi
Relawan, Kamu Jadi Tahu Bahwa Uang Bukanlah Segala-Galanya.
Wallahu
a’lam bis showab
Ust
Abdul Muchith, M. Ag(Blogger:kangmuysolution)
CATATAN KAKI
[1] Muhammad bin Jarir, Abu Ja’far al Thobari, Jâmi’ul Bayân fii ta’wiil Āyil Qurân, (Muassasah al
Risalah, cet. I, th. 1420 H – 200 M), juz 21 hal 469
[3] Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Syamsuddin al
Qurthubi, al Jâmi’ li Ahkâm al Qurân,(Kairo:
Dâr al Kutub al Mishriyyah, cet. II, th. 1384 H – 1964 M) juz 18 hal 89
Tidak ada komentar:
Posting Komentar